Marc Delgado Guardia, warga spanyol keliling dunia naik sepeda
TANGGUH :
Marc Delgado Guardia bersama Santoro didepan gedung pamer Disperindagtam
Banyuwangi.
Mengincar
Gunung Ijen Sejak Di Australia
Setelah dua bulan melanglang buana ke New
Zealand, Tasmania dan Benua Australia. Kini tiba giliran Marc menjejakkan
sepedanya di Indonesia. Setelah mengurus
extend visanya di Bali ia bertolak ke wilayah Sunrise Of Java. Bagaimana
perjalanan pria bermata biru ini.
CHIN
JULLIEN, Banyuwangi
Baru beberapa jam datang dari Bali,
warga negara Spanyol ini beristirahat di kafe Dinas Perindustrian Perdagangan
dan Pertambangan (Disperindagtam) Banyuwangi. Padahal, perjalanan menggunakan
sepeda kayuh cukup menguras tenaga.
Ia berbincang dengan Santoro warga asli Banyuwangi yang akan menjadi guidenya
untuk mendaki ijen pada malam hari. Pembicaraan yang ditangkap Jawa Pos Radar
Banyuwangi, ia ingin menyelesaikan tujuannya (mendaki ijen) tepat waktu.
Ya pria berambut keriting kecoklatan ini
benar-benar disiplin mengatur jadwal. Ia berencana tinggal paling lama dua hari
di Banyuwangi. Setelah Bali, Lombok dan Banyuwangi, kota lain yang akan ia
kunjungi adalah Madiun, Jogjakarta dan menuju Sumatra. “Bisa kah tepat waktu?
Karena saya harus datang tepat waktu ke beberapa daerah lainnya lagi yang akan
saya kunjungi,” katanya kepada Santoro. Santoro meyakinkan bahwa keesokan hari
setelah mendaki ijen, Marc bisa melanjutkan perjalanan ke daerah-daerah
tujuannya setelah beristirahat sejenak.
Kedatangannya di Banyuwangi memang telah
direncanakan secara matang jauh-jauh hari sebelumnya. Bahkan ketika ia masih
menjelajahi Auckland di New Zealand.
Melalui internet, ia mengetahui Banyuwangi memiliki pesona blue fire di Kawah Ijen. “Oh, saya memang mencari wilayah yang
masih banyak tetumbuhan di Indonesia, di Jawa sendiri Banyuwangi merupakan salah satu tempat yang
menarik apalagi terdapat lokasi blue fire,”
ceritanya.
Meski terkesan membawa perlengkapan sederhana,
Marc meyakinkan bahwa ia membawa segala
perlengkapan yang ia butuhkan ketika
dijalan. Empat tas yang
digantungkan didepan dan belakang sepeda
merahnya berisi peralatan seperti tenda, baju hangat, perlengkapan sepeda,
sarung tangan, sandal, handuk, notebook, kamera peta dan dokumen lainnya.
Selama di Banyuwangi sendiri ia tinggal
di rumah Santoro di Kelurahan Karangrejo. Hal itu ia putuskan untuk menghemat
biaya. Dia bercerita selama berkelana ia memang menghemat biaya akomodasi. Baik
dari makanan, tempat menginap dan lainnya. “Saya tidak makan direstoran,tidak
menginap di hotel dan jika lintas pulau, saya berusaha untuk menggunakan kapal agar masih bisa menggunakan sepeda,” katanya.
Bahkan dibeberapa negara yang ia kunjungi di Australia kemarin, ia mendirikan
tenda di taman-taman yang memberikan fasilitas camping. “Ketika disana, saya browsing tempat-tempat menarik di
Indonesia, lalu saya menemukan kawah ijen di Banyuwangi, saya beruntung karena
dekat dengan Bali, tempat saya mendarat setelah dari Victoria, Australia,” ceritanya.
Keinginannya untuk
berkeliling dunia menggunakan sepeda muncul ketika berusia 24 tahun. “Ini
seperti delusi bagi saya, terus menghantui saya,” ungkapnya. Keinginannya
sempat timbul-tenggelam karena sadar untuk melakukan hal tersebut dia akan
membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Beberapa tahun kemudian,
menginjak usia pertengahan 30 an, ia keinginan untuk mengelilingi dunia
menggunakan sepeda kembali melandanya. Saat itulah ia mulai rajin berhemat dan
menabung untuk mewujudkan mimpinya. “Saya menabung kusus untuk perjalanan ini
selama enam tahun, saya menghemat biaya hidup, tidak makan direstoran selama
enam tahun,” kenangnya.
Ketika akan memulai pun, ia
masih diragukan lagi oleh sesuatu lainnya. Memiliki tanggung jawab sebagai
administrasi di perusahan tempatnya bekerja membuatnya kembali ragu. Sejak
Eropa mengalami krisis beberapa bulan yang lalu, ia ingin segera berhenti dari
pekerjaannya, namun ragu karena memiliki hubungan yang baik dengan atasannya. “Saya
mempunyai hubungan baik dengan bos saya,” ungkapnya.
Akhirnya setelah beberapa
bulan bertahan ia memutuskan untuk resign.
“Jika terus bertahan gaji saya kecil, saya harus mewujudkan impian terbesar
saya, now or never!”serunya. Tepat enam bulan yang lalu, ia terbang dari
Spanyol menuju Auckland di New Zealand, kemudian ke Pulau Tasmania dan
dilanjutkan ke sejumlah Negara di Australia seperti Victoria, New South Wales
dan Queensland selama dua bulan lebih.
Di Indonesia sendiri, ia
akan mengunjungi Pulau Bali, Jawa dan Sumatra. “Setelah Bali dan Banyuwangi
saya akan ke Madiun atau Jogja, beristirahat di warm shower,” ujarnya. Warmshower merupakan semacam basecamp bagi pengelana asing pesepeda
sepertinya. Basecamp tersebut menyediakan fasilitas gratis untuk istirahat dan
makan. “Tempat ini ada dimana-mana, kalian bisa cek di www.warmshowers.org,” tambahnya.
Setelah dari Jogja, ia akan
menuju Sumatra menggunakan kapal. Kemudian dilanjutkan ke Malaysia, Bangkok, Myanmar, dan terakhir
di Nepal. “Saya ragu setelah dari Indonesia nanti masih bisa berhemat atau
tidak, sebab ada beberapa negara yang mengharuskan warga negara asing untuk
menginap di hotel,” pungkasnya.