Minggu, 25 Januari 2015

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Api Tauhid - Habiburrahman El Shirazy


Akhir-akhir ini saya sedang belajar untuk lebih mencintai buku. Bukan karena saya fakir asmara lalu berbelok untuk mencintai benda mati. Mencintai disini yang saya maksud adalah mencintai ilmu yang terkandung dalam buku tersebut. Seberapa pun mahalnya sebuah ilmu yang terkandung dalam buku tidak akan kita dapatkan hanya dengan memandang sampul bukunya saja. Kadang kita harus sedikit memaksakan diri untuk memperbaiki kebiasaan buruk kita. 

Untuk menunjang semangat membaca teman-teman dan tentunya saya pribadi mulai hari ini saya akan menulis review buku-buku yang saya baca di samping tetap menulis berbagai artikel yang lain. Saya harap dari sini kita dapat bertukar pemikiran, saran, atau saling pinjam buku satu sama lain. Dan untuk kali ini saya akan menulis sedikit review tentang novel karya terbaru (saat artikel ini ditulis) dari salah satu novelis besar Indonesia yaitu “Habiburrahman El-shirazi”. Kang abik (panggilan akrab beliau) melalui karya-karyanya berhasil menarik perhatian saya yang belum terbiasa membaca novel menjadi “ketagihan” untuk membaca novel. Awalnya saya mengenal beliau saat beliau menjadi pembicara di sebuah seminar yang akhirnya membangkitkan rasa penasaran saya untuk membaca karya-karya beliau.

Sudah 3 novel beliau yang saya baca (dengan cara minjem) yaitu “Bumi Cinta”, “Ketika Cinta Bertasbih 1”, dan “Ketika Cinta Bertasbih 2” berhasil saya rampungkan dalam waktu 1 minggu untuk masing-masing buku. Saya merasa sudah menyia-nyiakan waktu saya dengan tidak mengikuti karya-karya beliau. Buku-buku tersebut sangat luar biasa, pemilihan kata yang jenius dan alur ceritanya yang menyentuh hati berhasil membuka jendela pemikiran baru bagi saya yang selama ini hanya dipenuhi dengan cerita-cerita penuh kebohongan dan kehidupan liberal khas barat.

Dalam karya terbaru beliau yang berjudul “Api Tauhid” kang abik sedikit menggeser fokus cerita karyanya dari cerita cinta ke arah edukasi terhadap sejarah. Utamanya tentang sejarah islam di negeri Turki. Novel ini sangat cocok dengan judulnya, karena sepanjang 564 halaman kita diajak menyelam kedalam kehidupan seorang ulama terkenal Turki “Badiuzzaman Said Nursi” yang sarat akan perjuangan dan keteguhan hati dalam menggenggam syariah agama. 

==========================spoiler alert==========================

Dalam buku ini Perjalanan hidup dari sejarah orang tua sampai dengan akhir hayat beliau terpapar secara menakjubkan dalam buku ini. Selain sejarah hidup “Badiuzzaman Said Nursi” kita juga digiring untuk memahami sejarah runtuhnya khilafah Turki utsmani yang penuh intrik dan tipudaya dari musuh-musuh islam. Semua itu diracik dengan sangat halus tanpa kesan menggurui dengan balutan cerita aksi dan asmara si tokoh utama yang berziaroh ke tempat-tempat bersejarah di Turki yang menjadi saksi bisu perjuangan “Badiuzzaman Said Nursi” semasa hidupnya.

Jumat, 16 Januari 2015

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Terompet Banyuwangi di Buat Orang Solo

Mengintip Aktivitas Sekelompok Pedagang Terompet Musiman Asal Solo

  
Eko Yulianto, 37 Salah satu pedagang terompet asal Solo yang menetap di Pasar Cungking


Winarno, 47 tahun adalah leader sekumpulan pedagang terompet musiman di Pasar Cungking

Kasimin, 50 yang tertua diantara sekelompok pedagang terompet musiman




Tahukah anda terompet yang dijual setiap menjelang tahun baru rata-rata di produksi Wong Solo? Rombongan wong solo tersebut hanya singgah beberapa waktu di Banyuwangi sebelum menjelang tahun baru guna memproduksi terompet. 

CHIN JULLIEN, Banyuwangi

Jika anda memasuki bangunan Pasar Mojopanggung di jalan Gajah Mada Kelurahan Mojopanggung di Kecamatan Giri, dibagian pojok sebelah utara, anda akan menemukan bidak yang dipenuhi terompet dan sekelompok yang bermukim di situ. Ya, mereka semua adalah warga asli desa Ngaglik Kecamatan Bulukerto Kabupaten Wonogiri  yang hanya bermukim beberapa waktu sebelum Tahun Baru untuk menjual terompet di Banyuwangi.
Sekelompok orang tersebut terdiri dari 12 orang dewasa dan tiga orang anak. Mereka memanfaatkan Pasar Mojopanggung yang belum beroperasi sebagai tempat hunian dan produksi terompet. Bahkan, berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, selain ribuan terompet yang digantung di langit-langit, sejumlah peralatan masak dan dipan untuk istirahat juga tersedia disana.
Dikatakan Eko Yulianto, 37, salah satu kelompok pedagang musiman tersebut, menjelang tahun baru memang momen yang sangat di nanti oleh pengrajin terompet warga asal Wonogiri. Katanya, hal ini sudah menjadi tradisi warga Wonogiri setiap akhir tahun. “Pertengahan bulan Desember, para pria pasti meninggalkan rumah untuk berdagang terompet, tidak hanya di Banyuwangi saja, tapi kami menyebar bahkan hingga di luar Jawa,” terang Eko.
Ia juga menambahkan, masing-masing rombongan sudah memilih wilayah masing-masing untuk berdagang. Jika sudah merasa cocok di wilayah mereka menjual terompet, mereka akan kembali lagi di tahun-tahun berikutnya. Bahkan diantara mereka ada yang menetap. Misalkan saja Winarno, 47, pria yang bisa dibilang sebagai pimpinan rombongan pedagang terompet di Mojopanggung ini menetap di Banyuwangi sejak tahun 2002.
Ia merasa nyaman tinggal di Banyuwangi. Namun sehari-harinya, untuk bertahan hidup, ia tidak menjual terompet. “Terompet kan hanya laku saat musim tertentu saja, kalau sehari-harinya saya jual mainan anak-anak,” ujarnya.  Menjual terompet hanya ia lakukan sebulan menjelang akhir tahun. Meskipun sudah menetap, sama seperti rombongan lainnya, ia selalu mengusahakan untuk pulang ke kampung halaman usai terompetnya ludes terjual.
Meskipun mereka berkelompok namun untuk memproduksi dan mendagangkan terompet mereka tetap secara mandiri. Masing-masing orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam memproduksi terompet. Bagi yang baru lima tahun melakukan bisnis dagang terompet, maksimal mereka bisa memproduksi 500 hingga 1000 terompet hingga akhir tahun. Sedangkan yang menetap lama di Banyuwangi bisa mencapai 2 ribu hingga 3 ribu produksi terompet.
Untuk 500 buah terompet, pedagang bisa menghabiskan modal hingga Rp 2,5 juta. Sedangkan untuk yang memproduksi  2 ribu hingga 3 ribu terompet bisa menghabiskan modal hingga Rp 10 juta. Terompet dijual dengan harga bervariasi. Tergantung tingkat kesulitan. Misalkan, tingkat yang paling sulit adalah terompet berbentuk terompet drumband, dijual dengan harga Rp 25.000, terompet dengan bentuk ular naga di jual dengan harga 20.000 sedangkan yang paling murah adalah terompet bentuk kerucut konvensional dengan harga Rp 5.000 per kilogram.
Dari hasil penjualan tersebut, diakui Eko, pedagang terompet tidak pernah rugi. “Meskipun tidak mendapatkan untung banyak, tetapi kami tidak pernah rugi,” ujarnya.  Hasil jual terompet diakui bisa digunakan untuk mengganti ongkos transport dan untuk biaya hidup ketika kembali ke kampong halaman. “Ya lumayan, uangnya bisa diuntuk tahun baruan dengan keluarga di kampong,” timpalnya.
Uniknya lagi, ternyata mereka sudah memulai membuat terompet ketika masih di kampong halaman. “Biasanya bulan 10 kami sudah mulai membuat, nanti sampai di Banyuwangi kita tinggal finishing nya saja,” ujar Eko yang turut membawa anaknya untuk berlibur akhir tahun. Eko dan rombongannya mengangkut terompet tersebut bersamaan dengan dirinya menggunakan satu unit bis. “Kami biasa nyewa bis, barang bawaan jadi satu dengan kami,” tambahnya.
Kebanyakan, pengerjaan dilakukan dimalam hari usai pekerjaan utama mereka dirampungkan. Sekedar tahu, pekerjaan pedagang terompet musiman ini di kampong halamannya rata-rata adalah sebagai petani dan montir.
Sesuai target yang ditentukan, dalam beberapa hari lagi, mereka akan kembali ke kampong halaman. “Biasanya kami akan pulang pada tanggal 1, siang hari,” ujarnya. Ia optimis, seperti tahun-tahun sebelumnya, terompet mereka masing-masing akan terjual habis pada malam pergantian tahun.
Tahun depan, mereka mendengar kabar bahwa Pasar Mojopanggung akan mulai di fungsikan. Ini membuat mereka kecewa namun juga menyadari ini posisi mereka yang hanya menumpang saja. Selama menetap disitu, mereka tidak membayar sewa tempat. Mereka hanya membayar uang air dan listrik, masing masing orang dikenai biaya Rp. 30.000.
Namun mereka tetap akan dating lagi tahun depan. Mereka mulai menyewa satu rumah yang bisa dihuni satu rombong orang untuk tempat produksi terompet dan beraktivitas lainnya. Lokasi rumah tersebut tidak jauh dari pasar Mojopanggung tersebut. “Kami sudah patungan untuk menyewa rumah, satu tahun Rp 3 juta,” tutup Eko. (cin)