Kamis, 05 Maret 2015

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business


Marc Delgado Guardia, warga spanyol keliling dunia naik sepeda





TANGGUH : Marc Delgado Guardia bersama Santoro didepan gedung pamer Disperindagtam Banyuwangi.



Mengincar Gunung Ijen Sejak Di Australia


Setelah dua bulan melanglang buana ke New Zealand, Tasmania dan Benua Australia. Kini tiba giliran Marc menjejakkan sepedanya di  Indonesia. Setelah mengurus extend visanya di Bali ia bertolak ke wilayah Sunrise Of Java. Bagaimana perjalanan pria bermata biru ini.

CHIN JULLIEN, Banyuwangi

Baru beberapa jam datang dari Bali, warga negara Spanyol ini beristirahat di kafe Dinas Perindustrian Perdagangan dan Pertambangan (Disperindagtam) Banyuwangi. Padahal, perjalanan menggunakan sepeda kayuh cukup menguras tenaga. Ia berbincang dengan Santoro warga asli Banyuwangi yang akan menjadi guidenya untuk mendaki ijen pada malam hari. Pembicaraan yang ditangkap Jawa Pos Radar Banyuwangi, ia ingin menyelesaikan tujuannya (mendaki ijen) tepat waktu.

Ya pria berambut keriting kecoklatan ini benar-benar disiplin mengatur jadwal. Ia berencana tinggal paling lama dua hari di Banyuwangi. Setelah Bali, Lombok dan Banyuwangi, kota lain yang akan ia kunjungi adalah Madiun, Jogjakarta dan menuju Sumatra. “Bisa kah tepat waktu? Karena saya harus datang tepat waktu ke beberapa daerah lainnya lagi yang akan saya kunjungi,” katanya kepada Santoro. Santoro meyakinkan bahwa keesokan hari setelah mendaki ijen, Marc bisa melanjutkan perjalanan ke daerah-daerah tujuannya setelah beristirahat sejenak.

Kedatangannya di Banyuwangi memang telah direncanakan secara matang jauh-jauh hari sebelumnya. Bahkan ketika ia masih menjelajahi Auckland di New Zealand. Melalui internet, ia mengetahui Banyuwangi memiliki pesona blue fire di Kawah Ijen. “Oh, saya memang mencari wilayah yang masih banyak tetumbuhan di Indonesia, di Jawa sendiri  Banyuwangi merupakan salah satu tempat yang menarik apalagi terdapat lokasi blue fire,” ceritanya.

Meski terkesan membawa perlengkapan sederhana, Marc  meyakinkan bahwa ia membawa segala perlengkapan yang ia butuhkan ketika dijalan. Empat tas yang digantungkan didepan dan belakang sepeda merahnya berisi peralatan seperti tenda, baju hangat, perlengkapan sepeda, sarung tangan, sandal, handuk, notebook, kamera peta dan dokumen lainnya.

Selama di Banyuwangi sendiri ia tinggal di rumah Santoro di Kelurahan Karangrejo. Hal itu ia putuskan untuk menghemat biaya. Dia bercerita selama berkelana ia memang menghemat biaya akomodasi. Baik dari makanan, tempat menginap dan lainnya. “Saya tidak makan direstoran,tidak menginap di hotel dan jika lintas pulau, saya berusaha untuk menggunakan kapal  agar masih bisa menggunakan sepeda,” katanya.

Bahkan dibeberapa negara yang ia kunjungi di Australia kemarin, ia mendirikan tenda di taman-taman yang memberikan fasilitas camping. “Ketika disana, saya browsing tempat-tempat menarik di Indonesia, lalu saya menemukan kawah ijen di Banyuwangi, saya beruntung karena dekat dengan Bali, tempat saya mendarat setelah dari Victoria, Australia,” ceritanya.

Keinginannya untuk berkeliling dunia menggunakan sepeda muncul ketika berusia 24 tahun. “Ini seperti delusi bagi saya, terus menghantui saya,” ungkapnya. Keinginannya sempat timbul-tenggelam karena sadar untuk melakukan hal tersebut dia akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Beberapa tahun kemudian, menginjak usia pertengahan 30 an, ia keinginan untuk mengelilingi dunia menggunakan sepeda kembali melandanya. Saat itulah ia mulai rajin berhemat dan menabung untuk mewujudkan mimpinya. “Saya menabung kusus untuk perjalanan ini selama enam tahun, saya menghemat biaya hidup, tidak makan direstoran selama enam tahun,” kenangnya.

Ketika akan memulai pun, ia masih diragukan lagi oleh sesuatu lainnya. Memiliki tanggung jawab sebagai administrasi di perusahan tempatnya bekerja membuatnya kembali ragu. Sejak Eropa mengalami krisis beberapa bulan yang lalu, ia ingin segera berhenti dari pekerjaannya, namun ragu karena memiliki hubungan yang baik dengan atasannya. “Saya mempunyai hubungan baik dengan bos saya,” ungkapnya.

Akhirnya setelah beberapa bulan bertahan ia memutuskan untuk resign. “Jika terus bertahan gaji saya kecil, saya harus mewujudkan impian terbesar saya, now or never!”serunya. Tepat enam bulan yang lalu, ia terbang dari Spanyol menuju Auckland di New Zealand, kemudian ke Pulau Tasmania dan dilanjutkan ke sejumlah Negara di Australia seperti Victoria, New South Wales dan Queensland selama dua bulan lebih.

Di Indonesia sendiri, ia akan mengunjungi Pulau Bali, Jawa dan Sumatra. “Setelah Bali dan Banyuwangi saya akan ke Madiun atau Jogja, beristirahat di warm shower,” ujarnya. Warmshower merupakan semacam basecamp bagi pengelana asing pesepeda sepertinya. Basecamp tersebut menyediakan fasilitas gratis untuk istirahat dan makan. “Tempat ini ada dimana-mana, kalian bisa cek di www.warmshowers.org,” tambahnya.

Setelah dari Jogja, ia akan menuju Sumatra menggunakan kapal. Kemudian dilanjutkan  ke Malaysia, Bangkok, Myanmar, dan terakhir di Nepal. “Saya ragu setelah dari Indonesia nanti masih bisa berhemat atau tidak, sebab ada beberapa negara yang mengharuskan warga negara asing untuk menginap di hotel,” pungkasnya.

Senin, 16 Februari 2015

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

manfaatkan masa mudamu dengan bijak...

http://www.abcfastdirectory.com/church_articles/wp-content/uploads/2010/09/YouthMinistry.jpg


"Pemuda Hari Ini Adalah Pemimpin Masa Depan"


Masa muda adalah masa yang sangat luar biasa. Di masa ini kita punya waktu luang dan tenaga yang tidak terbatas. Fikiran kita pun belum terbagi-bagi dengan banyak hal. Tidak membiayai anak. Tidak memberikan nafkah pada istri. Dan tidak punya tanggungan pekerjaan yang segunung dengan deadline yang mencekik leher.

Jika kita fikir secara logika dengan sedikitnya tanggung jawab yang ada di pundak kita maka seharusnya kita memiliki banyak waktu luang untuk dimanfaatkan. Tapi sayangnya waktu luang adalah suatu nikmat yang sering tidak kita syukuri. Minimnya pengetahuan merupakan suatu faktor penyebab banyaknya orang yang salah menggunakan masa mudanya. Ada yang berfoya foya, minum-minuman keras, narkoba, bahkan sex bebas.

Padahal masa itulah masa kita mempersiapkan mental untuk masa depan kita. Tidak ada pedang yang tidak ditempa. Tanpa proses penempaan sebuah pedang hanyalah onggokan besi tidak bermakna. Orang yang masa mudanya sudah terbiasa hidup keras maka mereka akan lebih mudah menjalani kehidupan. Jika di masa muda kita terbiasa untuk bersantai santai maka tidak heran jika di hari kemudian nanti kita akan lebih sering mengeluh karena terhimpit keadaan.

Maka dari itu meskipun saya belum tua tua banget ( meskipun banyak yang menganggap saya sudah tua ) saya ingin membagikan (terutama untuk mengingatkan diri sendiri ) sedikit tips untuk menjalani masa muda dengan berkualitas. Cekidot ya gais…


1. Berhenti mengeluh

Ya, hal pertama yang harus kita lakuin adalah stop mengeluh. Mengeluh adalah suatu kebiasaan yang sangat menggangu. Tanpa kita sadari argument kita pada diri kita sendiri akan mematikan kreatifitas kita dalam mencari solusi. Jangan merasa anda adalah manusia paling sengsara di dunia. Come on. Masih banyak yang lebih sengsara dari hidup kita. Saat kita hidup pasti akan terus kedatangan banyak masalah. Jadi tidak perlu merasa terbebani dengan masalah. masalah tidak dapat kita selesaikan hanya dengan mengeluh.

FACE THEM DON’T FACEBOOK THEM !!


2. Baca buku

Membaca adalah sebuah kegiatan yang dapat menambah wawasan. Dengan membaca bisa menyerap pengalaman penulis / pengetahuan penulis untuk kita. Dengan menambah wawasan kita akan semakin memudahkan kita untuk berbicara dan memecahkan masalah.


3. Kepoin orang orang sukses

Mereka yang berdiri di garis kesuksesan memiliki cerita hidup yang luar biasa. Kisah sukses mereka selalu membuat kagum siapa saja yang mendengarnya. Setiap langkah yang mereka ambil dapat menginspirasi kita untuk meraih sukses layaknya mereka.






4. Menekuni hobi

Banyak hobi positif yang bisa kita pilih untuk mengisi waktu. Pecinta alam, remaja masjid, osis, dan banyak lagi. Dengan menekuni hobbi kita bisa bertemu banyak orang dan berteman dengan bermacam-macam orang. Nggak bakalan rugi deh dan sekecil apapun pengalaman kamu saat menekuni hobi pasti bermanfaat saat dewasa kelak.
 



5. Kumpul kumpul bareng temen

Zaman sekarang jaringan pertemanan adalah kunci mulusnya masa depan. Untuk menghadapi tantangan masa depan kita tidak akan bisa melewatinya sendiri. Kita perlu banyak koneksi untuk melancarkan masa depan kita di dunia kerja baik di swasta ataupun di pemerintahan.





6. Hindari terlalu banyak tidur

Tidur adalah sebuah kegiatan untuk memperistirahatkan badan setelah seharian beraktifitas. Sudah menjadi naluri setiap makhluk hidup untuk beristirahat di malah hari. Para ahli pun telah meneliti kegunaan tidur hingga terperinci hingga disimpulkan bahwa dalam tidur terdapat banyak manfaat yang terkandung di dalamnya.

Tapi jangan sampai kelewatan. Terlalu banyak tidur pun akhirnya akan memberi efek negatif baik secara fisik, psikologi, dan sosial. Di sadari atau tidak setelah hidup kita nanti kita akan tidur untuk waktu yang lama hingga hari kebangkitan kelak. Jadi pergunakan lah nikmat sempat sebaik mungkin untuk beraktifitas positif dan sekali lagi HINDARI TERLALU BANYAK TIDUR.


 

7. Hindari pacaran

Nah ini tips paling anti mainsetrum dari saya. Ya hindari pacaran. Pacaran akan menyita waktu anda untuk melakukan hal tidak penting mulai dari tanya kabar, udah makan belum, udah mandi belum, udah selingkuh belum dan lain lain. Dengan berpacaran 40% kehidupan kita akan terfokus pada pacar kita dan semakin parah jika pacar kita posesif atau haus perhatian. Sebagai konsep pra-pernikahan pacaran justeru menjadikan kita semakin tidak dewasa, alih-alih malah beradegan dewasa.

Kebanyakan kita menganggap bahwa berpacaran adalah sebuah kegiatan yang lumrah dan dianggap baik-baik saja. Tidak banyak yang menyadari bahwa sesungguhnya sudah jutaan orang merasakan efek negatif dari kegiatan yang satu ini. Baik yang berskala kecil seperti kekurang harmonisan pernikahan( setelah lama berpacaran ) dan juga yang berskala besar seperti aborsi dan pembunuhan akibat hamil di luar nikah.




Nah itulah tadi sedikit tips dari saya semoga dapat bermanfaat buat temen-temen sekalian. Penulis memang belum sempurna tapi penulis berharap sedikit pengalaman hidup saya ini bisa menginspirasi teman-teman untuk memanfaatkan waktu dengan lebih baik.

.fadz

Minggu, 25 Januari 2015

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Api Tauhid - Habiburrahman El Shirazy


Akhir-akhir ini saya sedang belajar untuk lebih mencintai buku. Bukan karena saya fakir asmara lalu berbelok untuk mencintai benda mati. Mencintai disini yang saya maksud adalah mencintai ilmu yang terkandung dalam buku tersebut. Seberapa pun mahalnya sebuah ilmu yang terkandung dalam buku tidak akan kita dapatkan hanya dengan memandang sampul bukunya saja. Kadang kita harus sedikit memaksakan diri untuk memperbaiki kebiasaan buruk kita. 

Untuk menunjang semangat membaca teman-teman dan tentunya saya pribadi mulai hari ini saya akan menulis review buku-buku yang saya baca di samping tetap menulis berbagai artikel yang lain. Saya harap dari sini kita dapat bertukar pemikiran, saran, atau saling pinjam buku satu sama lain. Dan untuk kali ini saya akan menulis sedikit review tentang novel karya terbaru (saat artikel ini ditulis) dari salah satu novelis besar Indonesia yaitu “Habiburrahman El-shirazi”. Kang abik (panggilan akrab beliau) melalui karya-karyanya berhasil menarik perhatian saya yang belum terbiasa membaca novel menjadi “ketagihan” untuk membaca novel. Awalnya saya mengenal beliau saat beliau menjadi pembicara di sebuah seminar yang akhirnya membangkitkan rasa penasaran saya untuk membaca karya-karya beliau.

Sudah 3 novel beliau yang saya baca (dengan cara minjem) yaitu “Bumi Cinta”, “Ketika Cinta Bertasbih 1”, dan “Ketika Cinta Bertasbih 2” berhasil saya rampungkan dalam waktu 1 minggu untuk masing-masing buku. Saya merasa sudah menyia-nyiakan waktu saya dengan tidak mengikuti karya-karya beliau. Buku-buku tersebut sangat luar biasa, pemilihan kata yang jenius dan alur ceritanya yang menyentuh hati berhasil membuka jendela pemikiran baru bagi saya yang selama ini hanya dipenuhi dengan cerita-cerita penuh kebohongan dan kehidupan liberal khas barat.

Dalam karya terbaru beliau yang berjudul “Api Tauhid” kang abik sedikit menggeser fokus cerita karyanya dari cerita cinta ke arah edukasi terhadap sejarah. Utamanya tentang sejarah islam di negeri Turki. Novel ini sangat cocok dengan judulnya, karena sepanjang 564 halaman kita diajak menyelam kedalam kehidupan seorang ulama terkenal Turki “Badiuzzaman Said Nursi” yang sarat akan perjuangan dan keteguhan hati dalam menggenggam syariah agama. 

==========================spoiler alert==========================

Dalam buku ini Perjalanan hidup dari sejarah orang tua sampai dengan akhir hayat beliau terpapar secara menakjubkan dalam buku ini. Selain sejarah hidup “Badiuzzaman Said Nursi” kita juga digiring untuk memahami sejarah runtuhnya khilafah Turki utsmani yang penuh intrik dan tipudaya dari musuh-musuh islam. Semua itu diracik dengan sangat halus tanpa kesan menggurui dengan balutan cerita aksi dan asmara si tokoh utama yang berziaroh ke tempat-tempat bersejarah di Turki yang menjadi saksi bisu perjuangan “Badiuzzaman Said Nursi” semasa hidupnya.

Jumat, 16 Januari 2015

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Terompet Banyuwangi di Buat Orang Solo

Mengintip Aktivitas Sekelompok Pedagang Terompet Musiman Asal Solo

  
Eko Yulianto, 37 Salah satu pedagang terompet asal Solo yang menetap di Pasar Cungking


Winarno, 47 tahun adalah leader sekumpulan pedagang terompet musiman di Pasar Cungking

Kasimin, 50 yang tertua diantara sekelompok pedagang terompet musiman




Tahukah anda terompet yang dijual setiap menjelang tahun baru rata-rata di produksi Wong Solo? Rombongan wong solo tersebut hanya singgah beberapa waktu di Banyuwangi sebelum menjelang tahun baru guna memproduksi terompet. 

CHIN JULLIEN, Banyuwangi

Jika anda memasuki bangunan Pasar Mojopanggung di jalan Gajah Mada Kelurahan Mojopanggung di Kecamatan Giri, dibagian pojok sebelah utara, anda akan menemukan bidak yang dipenuhi terompet dan sekelompok yang bermukim di situ. Ya, mereka semua adalah warga asli desa Ngaglik Kecamatan Bulukerto Kabupaten Wonogiri  yang hanya bermukim beberapa waktu sebelum Tahun Baru untuk menjual terompet di Banyuwangi.
Sekelompok orang tersebut terdiri dari 12 orang dewasa dan tiga orang anak. Mereka memanfaatkan Pasar Mojopanggung yang belum beroperasi sebagai tempat hunian dan produksi terompet. Bahkan, berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, selain ribuan terompet yang digantung di langit-langit, sejumlah peralatan masak dan dipan untuk istirahat juga tersedia disana.
Dikatakan Eko Yulianto, 37, salah satu kelompok pedagang musiman tersebut, menjelang tahun baru memang momen yang sangat di nanti oleh pengrajin terompet warga asal Wonogiri. Katanya, hal ini sudah menjadi tradisi warga Wonogiri setiap akhir tahun. “Pertengahan bulan Desember, para pria pasti meninggalkan rumah untuk berdagang terompet, tidak hanya di Banyuwangi saja, tapi kami menyebar bahkan hingga di luar Jawa,” terang Eko.
Ia juga menambahkan, masing-masing rombongan sudah memilih wilayah masing-masing untuk berdagang. Jika sudah merasa cocok di wilayah mereka menjual terompet, mereka akan kembali lagi di tahun-tahun berikutnya. Bahkan diantara mereka ada yang menetap. Misalkan saja Winarno, 47, pria yang bisa dibilang sebagai pimpinan rombongan pedagang terompet di Mojopanggung ini menetap di Banyuwangi sejak tahun 2002.
Ia merasa nyaman tinggal di Banyuwangi. Namun sehari-harinya, untuk bertahan hidup, ia tidak menjual terompet. “Terompet kan hanya laku saat musim tertentu saja, kalau sehari-harinya saya jual mainan anak-anak,” ujarnya.  Menjual terompet hanya ia lakukan sebulan menjelang akhir tahun. Meskipun sudah menetap, sama seperti rombongan lainnya, ia selalu mengusahakan untuk pulang ke kampung halaman usai terompetnya ludes terjual.
Meskipun mereka berkelompok namun untuk memproduksi dan mendagangkan terompet mereka tetap secara mandiri. Masing-masing orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam memproduksi terompet. Bagi yang baru lima tahun melakukan bisnis dagang terompet, maksimal mereka bisa memproduksi 500 hingga 1000 terompet hingga akhir tahun. Sedangkan yang menetap lama di Banyuwangi bisa mencapai 2 ribu hingga 3 ribu produksi terompet.
Untuk 500 buah terompet, pedagang bisa menghabiskan modal hingga Rp 2,5 juta. Sedangkan untuk yang memproduksi  2 ribu hingga 3 ribu terompet bisa menghabiskan modal hingga Rp 10 juta. Terompet dijual dengan harga bervariasi. Tergantung tingkat kesulitan. Misalkan, tingkat yang paling sulit adalah terompet berbentuk terompet drumband, dijual dengan harga Rp 25.000, terompet dengan bentuk ular naga di jual dengan harga 20.000 sedangkan yang paling murah adalah terompet bentuk kerucut konvensional dengan harga Rp 5.000 per kilogram.
Dari hasil penjualan tersebut, diakui Eko, pedagang terompet tidak pernah rugi. “Meskipun tidak mendapatkan untung banyak, tetapi kami tidak pernah rugi,” ujarnya.  Hasil jual terompet diakui bisa digunakan untuk mengganti ongkos transport dan untuk biaya hidup ketika kembali ke kampong halaman. “Ya lumayan, uangnya bisa diuntuk tahun baruan dengan keluarga di kampong,” timpalnya.
Uniknya lagi, ternyata mereka sudah memulai membuat terompet ketika masih di kampong halaman. “Biasanya bulan 10 kami sudah mulai membuat, nanti sampai di Banyuwangi kita tinggal finishing nya saja,” ujar Eko yang turut membawa anaknya untuk berlibur akhir tahun. Eko dan rombongannya mengangkut terompet tersebut bersamaan dengan dirinya menggunakan satu unit bis. “Kami biasa nyewa bis, barang bawaan jadi satu dengan kami,” tambahnya.
Kebanyakan, pengerjaan dilakukan dimalam hari usai pekerjaan utama mereka dirampungkan. Sekedar tahu, pekerjaan pedagang terompet musiman ini di kampong halamannya rata-rata adalah sebagai petani dan montir.
Sesuai target yang ditentukan, dalam beberapa hari lagi, mereka akan kembali ke kampong halaman. “Biasanya kami akan pulang pada tanggal 1, siang hari,” ujarnya. Ia optimis, seperti tahun-tahun sebelumnya, terompet mereka masing-masing akan terjual habis pada malam pergantian tahun.
Tahun depan, mereka mendengar kabar bahwa Pasar Mojopanggung akan mulai di fungsikan. Ini membuat mereka kecewa namun juga menyadari ini posisi mereka yang hanya menumpang saja. Selama menetap disitu, mereka tidak membayar sewa tempat. Mereka hanya membayar uang air dan listrik, masing masing orang dikenai biaya Rp. 30.000.
Namun mereka tetap akan dating lagi tahun depan. Mereka mulai menyewa satu rumah yang bisa dihuni satu rombong orang untuk tempat produksi terompet dan beraktivitas lainnya. Lokasi rumah tersebut tidak jauh dari pasar Mojopanggung tersebut. “Kami sudah patungan untuk menyewa rumah, satu tahun Rp 3 juta,” tutup Eko. (cin)