Selasa, 30 Desember 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

anda menggunakan smartphone sambil berkendara? fikirkan kembali...

Assalamu'alaikum....
Kali ini saya ingin sedikit berbagi sudut pandang pada pembaca semua. Akhir-akhir ini saya sedang asyik memperhatikan pengguna kendaraan. Saya adalah orang Banyuwangi yang tinggal di Denpasar, Bali dan saya merasakan perbedaan yang sangat besar antara pengguna jalan di Banyuwangi dan Denpasar. Di Banyuwangi kita akan sangat kesulitan untuk menyebrang jalan di bandingkan dengan di Denpasar. Menurut hemat saya perbedaan ini disebabkan oleh banyak faktor beberapa diantaranya adalah faktor ekonomi, sosial, dan budaya. Tapi bukan itu fokus tulisan saya kali ini. Kali ini saya ingin membahas tentang penggunaan alat komunikasi saat berkendara.

http://sepiringberdua.files.wordpress.com/2011/01/kaget.png

Tak sedikit dari pengguna kendaraan bermotor baik yang saya kenal ataupun tidak seringkali mengabaikan keselamatan dirinya dalam berkendara. Salah satunya adalah menggunakan alat telekomunikasi saat berkendara. Apalagi sekarang smartphone layar sentuh hampir menguasai dunia. Dengan segala kemudahan yang ditawarkan smartphone dalam bertelekomunikasi mulai dari BBM, LINE, WHATSAPP, FACEBOOK sering melalaikan penggunanya untuk mengatur skala prioritas dalam berkegiatan. Tak terkecuali saat berkendara.

Coba kita bayangkan bersama-sama. Smartphone layar sentuh bukanlah alat telekomunikasi yang dapat kita gunakan tanpa melihat. Maka, secara otomatis saat kita menggunakan smartphone minimal kita harus menggunakan mata dan satu tangan kita untuk mengoperasikan alat tersebut. Saya katakan minimal karena ada juga smartphone berukuran layar yang lebar sehingga harus menggunakan 2 tangan kita untuk menggunakannya. Padahal tim designer dari sepeda motor yang kita gunakan (apapun merknya) telah merancang sedemikian rupa dengan waktu dan anggaran yang tidak sedikit agar sepeda motor tersebut dapat beroperasi secara stabil dengan dua tangan. Jadi jika kita menggunakan smartphone saat berkendara otomatis akan mengganggu konsentrasi pengendara dan mengurangi kestabilan motor itu sendiri.

Lain ceritanya dengan bertelepon. Saat bertelepon kita dapat menggunakan headset sehingga kita dapat memegang kemudi kendaraan kita dengan mantab. Tapi persepsi ini sangat salah dan tidak dapat kita benarkan. Saat bertelepon kita harus memberi fokus ekstra pada lawan bicara sehingga akan mengurangi konsentrasi kita dalam berkendara. Padahal kehilangan sedikit saja konsentrasi saat berkendara, terutama dalam kecepatan tinggi dapat berakibat fatal.

"ah saya sudah terbiasa kok telponan sambil nyetir" 
Hmm..  Mungkin saja anda sedang beruntung sehingga sampai sekarang anda masih bisa membaca blog ini.. Namanya saja kecelakaan yaatidak tiap hari terjadi. 

"telpon ini sangat penting jadi harus saya angkat"
Jika telpon tersebut begitu penting buat anda, minggirkan kendaraan anda atau berikan tukarlah posisi dengan teman anda yang sedang anda bonceng. Saya yakin, telpon tersebut tidak lebih penting dari nyawa anda jadi luangkan waktu anda untuk berhenti sejenak. 
http://transform.besaba.com/wp-content/uploads/2014/04/10.jpg

"kecelakaan juga nggak apa apa, toh itu perbuatan saya sendiri anda tidak usah repot repot menegur saya. "
Ok baik, anda merasa kecelakaan karena kesalahan sendiri akan membuat anda merasa lebih tenang? Coba fikirkan kembali bagaimana orang menilai kecelakaan anda pasti mebanyakan akan menyalahkan anda atas kelalaian anda. 
Satu hal lagi yang perlu anda pertimbangkan, bagaimana jika kelalaian anda menyebabkan orang lain yang terluka? Bagaimana jika teman, saudara, atau anak anda yang menjadi korban? Pasti anda sangat tidak ingin itu terjadi kan? Begitu juga dengan orang lain. Mereka juga tidak menginginkan teman, saudara, atau anak mereka menjadi korban kecelakaan. 

"yang lain juga pakai handphone di jalan, jadi saya boleh dong..."
Jadi menurut anda jika suatu perbuatan dilakukan secara berjamaah makan perbuatan tersebut otomatis menjadi baik? Sekarang saya balik bertanya pada anda, apakah jika anda seorang pejabat tinggi negara dan anda tahu bahwa korupsi dilarang tetapi kebanyakan dari teman-teman anda menganggap bahwa korupsi itu baik maka perbuatan anda menjadi hal baik juga? TENTU TIDAK. Ini kesalahan kolektif yang pada akhirnya membentuk pemikiran di masyarakat dan mengaburkan nilai-nilai kebenaran yang berlaku di lingkungan. Pemikiran semacam inilah yang sangat berbahaya. Maka beranikan diri anda untuk berkata tidak. Andai ada yang bilang anda terlalu patuh, kurang gahol, atau terlalu eskrim maka tutuplah telinga anda dengan headset. Jangan biarkan perkataan mereka menggoyahkan keyakinan anda. Dan gunakan kata-kata yang sopan pada mereka yang masih belum mengerti. Tidak ada gunanya juga kita menasehati dengan kata-kata kasar.


Maka dari itu, melalui tulisan ini saya berharap teman teman sekalian dapat berlaku lebih bijak lagi dalam berkendara di jalan raya. Semua orang memiliki hak yang sama untuk menikmati berkendara dengan aman&nyaman di jalan raya. Mari kita rubah kebiasaan dari diri kita sendiri untuk kenyamana semua orang.

by:fadz

Sabtu, 20 Desember 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Management Waktu yang Baik - Tidak Ada Alasan Untuk Terlambat

Selamat malam pembaca!
Kali ini saya akan membagikan informasi mengenai management waktu.



Disiplin waktu adalah salah satu hal kecil namun amatlah penting. Kenapa bisa sangat penting? saya yakin anda tidak mungkin akan menyepelekan hal ini. Namun pertanyaan saya seberapa sungguh anda untuk menghargai kedisipliaan? atau apa definisi disiplin menurut anda?

Lebih luas lagi, jika kita berbicara mengenai kedisiplinan, kita harus selalu bisa memposisikan diri sebagai orang lain yang berhadapan dengan kita, seperti teman, Guru, Dosen, atau pengurus sekolah (bagi yang masih bersekolah) atau bagian management sebuah perusahaan dimana kita bekerja, bukan sebagai individu yang idealis. kenapa demikian? tentu hal ini akan membuat kita lebih bisa memahami dan menghargai perasaan orang lain. lalu apa kaitanya dengan kedisiplinan? mari kita pelajari lebih jauh lagi.

Teman, Guru, Dosen, Pengurus Sekolah, atau management perusahaan dimana kita bekerja tentu telah memiliki perencanaan tertentu terhadap waktu yang mereka miliki. dan itu pasti telah mereka rencanakan sedemikian rupa dan se-efisien mungkin. sehingga dapat mempermudah kinerja mereka dan kinerja kita khususnya.

Dengan kita bisa memahami hal itu kita dapat mengatur management waktu kita sendiri dengan sangat baik dan efisien. Pertanyaannya, bagaimana kita mengatur management waktu yang efisien tersebut?

Mula mula kita harus bisa membedakan kepentingan yang diprioritaskan dan yang penting, untuk lebih jelas, simak dan perhatikan gambar berikut:
Apa yang telah anda dapat dari gambar tersebut? menurut anda, mana yang harus anda dahulukan dari keempat kolom tersebut? berhentilah membaca postingan ini sekarang! jawab dan tuliskan pendapat anda!





..................................................

..................................................

..................................................

..................................................

..................................................

..................................................

..................................................







Bagaimana? Baik, saya akan mulai menjelaskan satu per satu,
  1. pada kolom I adalah beberapa contoh hal yang Penting dan mendesak. seperti Deadline, Krisis, Rapat yang mendadak, Dan lain sebagainya.
  2. pada kolom II adalah beberapa contoh hal yang penting namun tidak begitu mendesak. seperti Membangun Hubungan, Pengembangan Diri, Pelatihan, Rencana, Dan lain sebagainya.
  3. pada kolom III adalah beberapa contoh hal yang tidak penting namun mendesak. seperti, Pesan dan Telefon, Pertanyaan, beberapa rapat, dan lain sebagainya.
  4. pada kolom IV adalah beberapa contoh hal yang tidak penting, dan tidak mendesak, ini adalah kegiatan yang dapat membuat anda terlena terhadap management waktu anda, seperti, bermain Telefon genggam, berlama lama didepan televisi, dan kegiatan lain yang membuang waktu anda.
Mari kita kembali lagi di pertanyaan saya tadi, mana yang harus diprioritaskan? kolom I? Kolom II? Kolom III? atau mungkin Kolom IV? saya yakin anda tidak akan memilih kolom III apalagi IV. baik, jawabannya adalah kolom II. kenapa justru kolom II? kenapa tidak kolom I?

Mari kita ulas lagi, kolom II adalah hal yang dapat anda lakukan kapanpun dimanapun. Sangat mudah dan Sangat bermanfaat, kenapa saya katakan demikian? karena, jika kita menjalankan kegiatan yang ada pada kolom nomor 2 maka kejadian di kolom I tidak akan pernah terjadi. Tetapi kalau itu sudah terjadi tentu saja kolom I harus segera di selesaikan terlebih dahulu. sebagai contoh akan saya ceritakan pengalaman pribadi saya mengenai management waktu yang saya terapkan.
     "Saya sebenarnya adalah orang yang kurang disiplin terhadap waktu, waktu saya masih duduk di bangku sekolah saya sering datang mepet dengan jam masuk sekolah, syukur saya termasuk anak yang jarang datang terlambat waktu itu, namun bukan berarti saya tidak pernah terlambat masuk sekolah. suatu hari saya datang terlambat.
            Ketika itu saya bangun lebih siang dari biasanya, kemudian saya bergegas mandi, mengenakan seragam, sarapan dan berangkat sekolah dengan terburu buru. namun hal itu tidak membuat saya lebih cepat, justru malah membuat saya lalai, karena selain saya datang ke sekolah dengan keadaan terlambat, saya juga melupakan buku PR saya. dan hari itu menjadi hari yang sangat buruk bagi saya.
            Setelah kejadian itu saya belajar bahwa saya harus bangun lebih awal, dan kakak saya sedikit menceramahi saya mengenai Management waktu saya yang buruk. ia berkata, "Kamu ini Pin, kalau mau berangkat sekolah, sehari atau beberapa jam sebelumnya dipikirkan, jangan biasain berangkat mepet mepet, prepare lebih awal! apa apa saja yang perlu dibawa? cek lagi! terus kalau mau berangkat perhitungin juga jarak tempat kamu sampe tempat yang kamu tuju! terus lagi, kemungkinan - kemungkinan yang bisa terjadi, seperti ban bocor(kebetulan saya naik sepeda motor), macet, dan lain sebagainya. untung kamu masih sekolah, coba kalau nanti kamu masih seperti ini waktu kerja? perusahaan-mu nggak akan mau nerima alasan apapun dari kamu! paham nggak?"
Sejak saat itu saya berjanji kepada diri saya untuk tidak terlambat lagi, dan sejak saat itu management waktu saya jauh lebih bagus. jadi untuk bisa disiplin terhadap waktu kita harus tahu mana yang harus diprioritaskan mana yang tidak.

Demikian yang bisa saya Share, Semoga dapat Bermanfaat bagi kita semua. dan kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik, Terima Kasih.

Selasa, 16 Desember 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Angin 01 - “Hmm... Dasar”

Malam ini jaka terlihat aneh. Jaka si pemuda penuh energi itu seakan hampir kehabisan baterenya. Jalannya sempoyongan, matanya kosong, dan bajunya basah kuyup. Entah apa yang ada di fikirannya. Jam dinding kamar kami menunjukkan pukul 21.12 WITA dan seakan menertawakan keadaan teman seperjuanganku itu. Mungkin tak banyak yang menyadari, entah mungkin dia lelah atau mungkin lagi galau karena kehabisan nasi kucing mbok inem yang biasa mangkal di depan kosan.  Wajahnya suram sekali, bahkan lebih suram dari saat kami menghilangkan jam tangan kesayangannya beberapa bulan yang lalu.

Rasa bersalah atas kejadian itu membimbingku menekan tombol ctrl + S dan menutup laptop yang ada di pangkuanku. Aku pun beranjak dari kursi nyamanku, mengambil celana pendek tiga perempat, memakainya dan berniat menghampiri kawanku itu. Aku juga sempat memungut handuk yang tergeletak di samping meja belajar Amir. Sambil berjalan menyusuri kamar kos kami, aku mulai penasaran dan mengendus-endus bau tidak sedap yang entah dari mana seakan mengikutiku menuju ruang depan, “Prasaan aku udah mandi deh tadi pagi...”gumamku .

Saat mendekati jaka aku pun mulai bingung apa yang harus ku lakukan untuk menghiburnya. Coba saja bayangkan, orang yang dalam 24 jam selalu tersenyum dan energik (bahkan saat tidur) itu sedang murung. Murung semurung murungnya. Entah jin apa yang sedang merasuk dirinya. Melihat ekspresi wajahnya aku pun tak bisa menahan otakku untuk berkhayal,“pasti setannya lagi semangat nggoda orang, makanya sampai orang seperti Jaka saja bisa terpengaruh... aku harus lebih hati-hati...”

“Baru pulang jak? Malem banget...”, ujarku sambil duduk sofa ruang tamu kos kami dan melempar handuk yang ku pegang tadi padanya. “Seenggaknya  tunggu ujannya reda dulu kek kalo deres kaya gini.” lanjutku sambil mengambil 2 gelas air dari dispenser di sebelahku dan memberikan salah satunya pada Jaka. “Makasih men..” jawabnya sambil meminum air pemberianku. Setelah menghabiskan separuh air dari gelas tadi dia lalu menaruh gelas tersebut dan lanjut mengeringkan diri dan pakaiannya dengan handuk yang aku berikan tadi.

Meskipun agak malas aku pun mencoba membuka pembicaraan sambil merebahkan tubuhku di sofa merah itu sambil melihat ke langit-langit kos yang retak. Ku bilang padanya, “Dah denger belom ? Bu Res bilang biaya kuliah smester depan bakalan naik(jeda 10 detik)jadi lusa kita bakalan ngobrol bareng sama anak-anak, yah ga begitu banyak sih naiknya tapi nggak tahu tuh, pada ngedumel semua...(jeda 15 detik) Enaknya kita protes apa nggak ya.?”. “Wow” gumamku dalam hati.

“yaah dia lagi ngambek, gak asik nih. Mbok inem jahat banget nggak nyisain jatah nasi buat kucing garongnya... ”. Jaka yang terhenyak karena pernyataanku berhenti dari yang dia kerjakan dan menggigit bibirnya. Seakan mengerti arah pembicaraanku Jaka pun merubah ekspresi wajahnya 180derajat dan mulai menjawab “haha nggak kok tadi aku udah makan men, (tertawa) hahaha... makanya nggak mampir ke mbok inem, kamu udah mkan men? mau aku beliin nasi gandul wakwow di depan?” sambil memaksakan tawanya. "g usah aku dah kenyang.." jawbku ketus, "Men, hujannya deres banget depan kosan tadi padahal tadi pagi nggak ada awan di atas, makanya tadi pagi aku smpetin nyuci baju setumpukan tuh... Untung tadi ada Angga yang masih di kosan kalau nggak wihh udah basah semua cucianku tadi pagi," "bukan si Angga yang angkat, tapi bu Kos..." jawabku dingin. "wah dasar tu orang emang... eh ngomong-ngomong men, bau apaan ya dari tadi kok gak enak gini?”. “tauk lah,”jawabku sambil tetap mempertahankan posisiku tadi.

“baru dateng jak?” Tanya kak Dian sambil tersenyum melihat Jaka. “Hahaaa... iya kak Dian ini basah kuyup gini..”. “Cepet di keringin bajunya ntar kedinginan.”. “okok Sipp... kak Dian sibuk nggak? bisa bantu saya sebentar?” sahut jaka pada kak Dian yang baru keluar dari kamar mandi. Ku paksakan lidah dan otakku untuk berkoordinasi menciptakan kata-kata untuk memutus pembicaraan mereka, “Kak Dian mandi dingin-dingin gini? Aku mah ogah”. “Abis main basket tadi, keringetan  makanya mandi. kalo kamu emang jarang mandi, hahahaa.." jawab kak dian yang senyam senyum nggak jelas sambil berjalan menuju kamarnya.

Setelah membuka pintu kamarnya dia berteriak padaku, “Jak, liat anduk di merah depan meja?” “yaaa...”jawabku. “tolong simpenin jangan sampai si Amir tahu, tadi aku pake ngebersihin ek ok-nya si putih.”. “yaa” jawabku dingin. Entah mengapa kata-kata kak Dian menggema di fikiranku karena sepertinya ada yang mengganjal dari kata-katanya. Setelah memikirkan segala kemungkinan yang ada akhirnya kesadaranku kembali ke posisi ON. Aku menghempaskan tubuhku, duduk tegap sambil menatap Jaka yang masih sibuk mengeringkan diri. Karena kaget dengan pergantian posisiku yang tiba-tiba jaka pun menatapku penuh tanda tanya sambil bertanya, “kenapa?”.

Seakan tak menggubris pertanyaannya, aku mengendus-enduskan hidungku lalu berkata, “hmm... pantesan...”.

setelah itu aku pergi meninggalkan jaka yang terheran heran dengan tingkah lakuku barusan. Jaka pun mengikutiku mengendus-endus dengan polosnya. “Kak dian tega amat ya.?” Teriakku pada kak Dian sambil memasang headset yang menancap pada Hpku. Beberapa saat kemudian terdengar teriakan Jaka yang mulai tersadar.

“ASEEEEEMMMMMMMMMMMMM......”

Sebuah tawa terbahak-bahak menyambut teriakan Jaka dari dalam kamar kak Dian. Aku berani menjamin pasti orang jahil itu sangat puas membayangkan wajah jaka yang malang itu.  Malam itu jaka menggerutu habis-habisan karena pakaian basahnya sekarang tidak hanya basah, tapi jugaberbau ek ok si putih. “Hmm... dasar” gumamku lirih dalam hati.


Angin 01 (end)





Tadinya saya ingin bercerita tentang sebuah cerpen, tapi tiba-tiba saya terfikirkan tentang cerita lain yang lebih menarik perhatian saya. Cerita ini terfikirkan oleh saya ketika mengingat sesi diskusi kami (saya, chin, dan pindi) penulis tutupkurung.blogspot.com beberapa hari lalu di Taman Sritanjung, Banyuwangi seusai makan mie ayam di Warung Cak Agus. Ketika itu kami berdiskusi tentang banyak hal mulai dari kenangan masa SMK, masa-masa transisi kedewasaan dan gejolak kehidupan kami. Tapi apa hubungannya dengan cerita di atas ? Aku juga bingung...
Hahahaa

. fadz

Sabtu, 29 November 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

[field report] mendaki gunung ijen

Selamat malam sodar,
 


Semoga hari ini para pembaca sekalian dalam seadaan sehat batin dan badan. Di posting saya kali ini saya ingin berbagi pengalaman tentang pendakian saya ke gunung yang sudah tiga kali saya daki. Gunung yang berada diantara 3 kabupaten ini memiliki daya tarik yang tinggi bagi wisatawan asing maupun domestik. Sejak keberadaannya lebih sering terekspos berbagai media massa baik media cetak ataupun elektronik berkat kerja bupatinya yang giat mempromosikan pariwisata di daerahnya. Sebelum saya bercerita panjang kali lebar kali tinggi, ayoo coba tebak di mana ...?


eaa... bukan bermaksud pamer lho ya.. cuma sebagai bukti saja hehe.. doc:irma

Yap betul, Gunung ijen. Gunung dengan ketinggian 2799m dari permukaan laut ini kini makin digandrungi karena fenomena alam berupa Tambang Belerang, dan Blue Fire-nya. Infrastruktur yang semakin baik serta sorotan dari media massa menjadi salah satu faktor meningkatnya kunjungan wisatawan ke Gunung ini. Meskipun bukan hari libur tapi kemarin wisatawan domestik dan mancanegara memenuhi lapangan paltuding yang menjadi pintu masuk ke wilayah pendakian gunung ini.

Pendakian saya ke gunung ini untuk pertama kali terjadi 8 tahun yang lalu. Karena masih polos dan tidak tahu mau diajak kemana, saya yang saat itu masih duduk di kelas dua SMP berangkat dengan antusias dengan hanya membawa baju di badan dan 1 jaket tipis. Hawa dingin, rasa lapar, kaki yang pegal, jalan berbatu, dan aspal yang berlubang memenuhi ingatan pendakian pertama saya. Tapi semua kenangan itu menjadi sebuah pengalaman yang berharga karena perjuangannya.

 
Anto, Gugum, Wahyu, Dedy, Andra doc:irma


Kemarin (22 nov 2014) kami berlima memutuskan untuk mengambil cuti kerja 1 hari dan membolos kuliah di hari sabtu untuk menyambangi Gunung tersebut. Tepatnya pukul 5 sore kami sudah mendirikan tenda di paltuding untuk mengistirahatkan badan sebelum pendakian kami jam 12 malam nanti.


aring-aring byakar gedyang campur sawiy doc:dedy
Alhamdulillah, pengorbanan kami tidak sia-sia. Setelah melewati 3 jam atau kira-kira 4km pendakian menerobos hawa dingin Gunung Ijen kami dapat menjumpai si api biru kebanggaan warga Banyuwangi. Fenomena api biru atau "Blue Fire" yang menurut beberapa sumber hanya 2 di dunia ini menunjukkan pesonanya tepat dihadapan kami. Menurut penambang belerang, malam itu kami cukup beruntung. Menurut beliau tidak sedikit pendaki yang pulang dengan kecewa karena hembusan angin yang tidak bersahabat sehingga pendaki tidak dapat turun ke dasar kawah ijen. 
blue fire ijen http://farm6.staticflickr.com/5538/10678572734_f13c10953a_c.jpg


Api biru yang menyala-nyala di pinggiran danau Kawah Ijen itu dapat kita lihat sampai matahari terbit. Api biru ini akan sangat indah apabila kita dapat melihatnya pada tengah malam karena semakin pagi nyalanya apinya makin redup. Saat memandangi keindahannya kita harus tetap waspada terhadap asap belerang yang terus bertambah seiring bertambah tingginya matahari. Setelah puas berfoto-foto kami pun mengakhiri perjalanan dan turun kembali ke paltuding. Kaki dan tubuh kami sudah meronta-ronta untuk diistirahatkan. Beginilah kami anak kota yang terbiasa hidup serba santai sangat bertolak belakang dengan keadaan di sini. Motor, internet, dan segala kemudahan yang kami miliki tanpa sadar telah mengurangi fungsi otot dan otak kami.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiILn20hhwaxxBpdSzD33Em5LKxxTQkS7kOrs5O7qZqSDnB3LbTLK4m0puxaGS1xZF-tfRfU5Lzjs-l4ujm0YKDAJC0_95cIMX6a43aeuuMWZ_LY2vckgAzy4vsXuqmKmP1da_FG0jrLtk/s1600/penambang+belerang+ijen+%25284%2529.JPG
Sepanjang perjalanan kami beberapa kali berjumpa dengan para penambang belerang yang membawa belerang dengan berat lebih dari 60kg di pundak mereka. Kami merasa malu sendiri melihat para penambang di sana. Kami berlima telah memiliki pekerjaan tetap di Denpasar tapi kami kurang mensyukurinya. Sangat berbeda sekali dengan bapak-bapak penambang di sini. Mereka masih setia melakukan pekerjaan mereka dengan penuh semangat meskipun tubuh mereka sedang digerogoti oleh zat-zat berbahaya dari asap belerang yang selalu mereka hirup setiap hari. 

Saat matahari sudah mulai meninggi kami baru menyadari pemandangan hutan gunung ijen yang gosong akibat kebakaran hutan yang terjadi baru-baru ini. Sejauh mata memandang kekayuan yang hangus dan bekas-bekas kebakaran memenuhi pemandangan hutan. Bahkan kami sempat melihat beberapa kawanan monyet yang telah berubah warna menjadi hitam karena terkena abu di batang-batang pohon yang mereka hinggapi.
bekas terbakar doc: wahyu

bekas terbakar doc:wahyu

bekas terbakar  doc:wahyu

monyet gaul doc:wahyu
Saya hanya dapat turut prihatin melihat apa yang terjadi di hutan gunung ijen. Saya juga berharap semoga kejadian ini adalah kejadian alam yang alami terjadi karena musim kemarau panjang yang terjadi beberapa bulan lalu. Bukan karena ulah wisatawan yang kurang berhati-hati dalam menggunakan api atau membuang puntung rokok.

Nafas kami semakin sesak tatkala melihat banyak sampah berserakan di sekitar kawasan pendakian. Sampah botol air minum mineral dan snack terlihat berserakan di sana sini.
doc:wahyu
Kalau ini dibiarkan bukan tidak mungkin para wisatawan pun akan berfikir berulang kali untuk datang kembali ke gunung ijen. Jangan sampai kita ditegur lewat media massa internasional lagi seperti kejadian di Pantai Kuta Bali yang menimbulkan efek negatif bagi denyut nadi wisata nasional karena kurang memperhatikan masalah yang 1 ini.

Sekian sharing pengalaman dari saya. Buat pembaca yang belum sempat ke ijen saya sarankan agar SEGERA ke sana sebelum ijen semakin ramai dan penuh sesak dengan pengunjung. Saat di Gunung Ijen tetap jaga kebersihan, beri jalan pada penambang, dan tetap jaga Ibadah jangan sampai perkara jalan-jalan ini menghalangi keistiqomahan ibadah kita terutama shalat.

arep rek.? Doc:dedy

by : fadz



Sabtu, 15 November 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Mengantri apa sih susahnya?

Halo para pembaca,

saya ingin bercerita dahulu sebelum masuk ke topik dari postingan ini. setelah 2 tahun sejak saya pertama menulis di blog, dan baru segelntir tulisan yang tercipta,

Koleksi pribadi

dari gambar diatas adalah beberapa blog yang saya dan teman saya kelola.untngnya saya masih terus menulis sampai bulan september kemarin,,, hehehe.. dan blog ini adalah peralihan dari blog pertama (kedua sebenarnya, yang awal saya lupa dan saya ceritakan di blog saya sebelumnya) yaitu Blog Tanpa Arah.

Oke sekian basa basinya, kembali ke topik pembicaraa!

Budaya yang Enggan dilakukan oleh sebagian besar masyarakat. Disini saya tidak membahas tentang Budaya kesenian namun tentang Budaya Beretika dinegara ini. mungkin bangsa ini bisa dinyatakan sebagai negara ke 7 yang pendudukanya terkenal ramah dimata dunia..... dari mana saya tahu? dari sini. namun dibalik keramahan tersebut kita sering menjumpai perilaku yang tak jarang mebuat kita jengkel. salah satunya yaitu budaya antre atau antri yang sulit diterapkan masyarakat di Indonesia.

Sabtu, 01 November 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Vina

Pagi itu, aku merasa di titik paling gundah dengan semua masalah yang merundungku akhir minggu ini. Aku sudah kehabisan cara untuk mengalihkan semua masalah mulai dari membaca novel, mendengarkan musik, hingga lain-lain. Aku sengaja mencegah diriku untuk berdo'a kepada Tuhan, bukan melupakan NYA, tapi aku malu, masalahku tidak pantas untuk diadukan kepadanya. Aku hanya mengucap istigfar dan maaf berkali-kali karena merasa lemah dan tidak mau meminta pertolongan NYA.

Setelah beberapa kali menimbang-nimbang, aku memutuskan untuk menantang adrenalinku. Berenang di laut di siang terik. Ya, tidak peduli dengan panas terik yang menerpa wajahku, dari dermaga dengan ketinggian aku loncat ke laut dangkal. Aku menangis terisak, aku puas bisa menumpahkan tangisan tanpa seorangpun tahu. Aku terus berfikir, bagaimana bisa dalam kegundahanku seharusnya aku bergantung, berpegangan pada Tuhan yang Maha Esa. Namun aku menghindarinya.

Sekitar 10 menit aku berputar putar dibawah dermaga."Renang mbak?" seorang bapak menegurku dari atas dermaga.Kulitnya hitam legam, nampaknya ia seorang nelayan di daerah sini. Aku menjawab iya dengan senyum paksaan. Kehadiran bapak tadi membuat aku menghentikan lamunan kesedihanku. Dengan perasaan jengkel aku naik ke dermaga. Ternyata bapak tadi tidak sendirian, ia bersama seorang anak perempuan berhijab. Bila dilihat dari tinggi dan wajahnya, nampaknya ia baru berusia kelas tiga SD.

Gadis itu nampak antusias melihat pantai. Kebetulan disiang yang cukup terik itu, Tuhan menunjukkan kuasanya melalui keindahan laut yang menampakkan berbagai jenis ikan kecil. Gadis itu berdiri di pagar dermaga sembari loncat-loncat menunjuk-nunjuk ikan manapun yang ia lihat. Ia tampak riang. Bapak yang menyapaku tadi nampak kawatir dan berulang kali mengingatkan gadis kecil tadi agar berhati-hati. "Kamu tidak ingin renang nduk? seperti mbk itu?" ujar bapak itu sembari menunjukku yang menghampiri barang-barangku. Gadis itu menggeleng. Tiba-tiba dengan raut sedih ia berkata “Kangen bapak,” Usai mengatakan itu ia berlari sepanjang dermaga menuju tepi pantai. Bapak tadi menggelengkan kepala sambil berteriak "Hati-hati".

"Ayah anak itu teman saya, baru meninggal tadi pagi," bapak tersebut berjalan perlahan mendekatiku. Aku hanya mengangguk sambil memasang wajah turut berduka cita. Melupakan seluruh kesedihanku memberikan ruang untuk bisa bersedih atas derita orang lain. Bapak tadi menceritakan semua duka gadis cilik tadi. Ayahnya seorang petani, meninggal karena sakit, benar perkiraanku ia masih duduk di kelas tiga SD. Gadis kecil yang bernama Vina tersebut sangat dekat dengan ayahnya, ia anak bungsu dari tiga bersaudara. Aku mendengarkan cerita bapak tadi sembari membereskan barang-barangku. Sesekali juga aku melihat Vina yang sedang bermain pasir pantai, walaupun dari kejauhan, aku yakin gurat diwajahnya adalah gurat keceriaan.

Kasihan gadis kecil ini, mungkin mulai hari ini, beban kehidupannya akan bertambah, ditinggal pergi orang terdekat sekaligus tulang punggung keluarga. Jujur aku tidak tersentuh oleh cerita bapak tadi. Hanya saja aku membayangkan jika kejadian itu menimpaku, dadaku sesak rasanya. Mataku mulai panas. Namun sebisa mungkin aku menahan air mata agar tidak jatuh. Kami diam beberapa saat. Vina berlarian menuju kami sambil berteriak memanggil pamannya. “Paman ! Paman ! ayo kesana, banyak ikan bagus, banyak kerang bagus !” Serunya menarik lengan pamannya. “Saya kesana dulu ya mbak, ini rewel, maklum anak kampung nggak pernah ke pantai,” ujar pria paruh baya ini. Sontak, Vina meninju lengan pamannya sambil merengek manja. Akrab sekali. Aku tersenyum mempersilahkan.

Kira-kira 10 meter mereka menjauhiku, tangisku tumpah ruah, bahkan tubuhku ikut terguncang. Entahlah, cerita bapak tadi, masalah-masalah yang menimpaku belakangan ini bercampur jadi satu dibenakku. Beberapa saat kubiarkan diriku menikmati kesedihan. Kemudian aku tersentak oleh wajah Vina, guratan wajahnya yang ceria. Hey, bukankah masalahnya lebih berat dari masalahku, baru pagi ini ia kehilangan orang yang dicintainya. Benar-benar ditinggalkan, tidak bisa berjumpa lagi.

Vina harus menanggung kepedihan di usia yang masih sangat belia. Tapi dia masih bisa tersenyum, ceria. Menyaksikan sekeliling, mensyukuri nikmat Tuhan dengan cara sederhana. Kenapa aku tidak bisa demikian ? padahal masalahku lebih ringan dibandingkan dia.

Aku bergegas membereskan barang-barangku dan segera beranjak. Dalam hati aku berjanji, tidak peduli seburuk dan sebesar apapun masalahku, Tuhan akan kujadikan tempat bertumpu, bukan musik,bukan novel atau lainnya. Aku akan selalu berbaik sangka, bahwa Tuhan selalu bisa menerimaku tidak peduli seburuk apapun keadaanku.






Chin

Jumat, 31 Oktober 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Welcome to our Blog... :)

Assalamu'alaikum Wr. Wb...

here we go again...
Terdengar lucu mungkin, bagi saya seorang yang dalam kesehariannya tidak banyak mengeluarkan kata-kata bermimpi untuk menulis blog. Tapi itulah mimpi, dan setiap mimpi yang kita yakini pasti ada jalan untuk mewujudkannya.

Ditemani oleh saudara +Okta Pindika Dharma (lagi) kami mencoba untuk membangun sebuah blog dengan sebuah harapan dan semangat baru. Kali ini kami bisa sedikit bernafas lega karena kami dibantu oleh teman kami +Chin Jullien Anisa yang setiap harinya berkecimpung di dunia penulisan.

Tujuan kami simple, dapat terus konsisten menulis 2-3 tulisan setiap bulannya dengan tetap berbagi berbagai hal teknis, beberapa kejadian lucu, kegelisahan kami, dan mungkin curahan hati kami. Kami akan secara bergantian menulis dengan sudut pandang kami masing-masing.

Kami sadar tak semua tulisan kami bagus dan sempurna, banyak hal yang harus kami pelajari untuk membuat tulisan yang berkualitas. 1 yang ingin kami jaga dalam blog kami, kami ingin terus menyebarkan hal positif di ruang baca anda.

Karena kami percaya bahwa hal-hal baik akan tersebar jauh lebih cepat dari sambaran kilat jika dibarengi dengan keikhlasan.

Yap mungkun cukup sekian dulu beberapa kata pembuka dari saya untuk blog ini. 

Please send us feedback, write comments, and be as active as possible. We’re learning from you in this exercise.

:)