Assalamu'alaikum....
Kali
ini saya ingin sedikit berbagi sudut pandang pada pembaca semua.
Akhir-akhir ini saya sedang asyik memperhatikan pengguna kendaraan.
Saya adalah orang Banyuwangi yang tinggal di Denpasar, Bali dan saya
merasakan perbedaan yang sangat besar antara pengguna jalan di
Banyuwangi dan Denpasar. Di Banyuwangi kita akan sangat kesulitan
untuk menyebrang jalan di bandingkan dengan di Denpasar. Menurut
hemat saya perbedaan ini disebabkan oleh banyak faktor beberapa
diantaranya adalah faktor ekonomi, sosial, dan budaya. Tapi bukan itu
fokus tulisan saya kali ini. Kali ini saya ingin membahas tentang
penggunaan alat komunikasi saat berkendara.
Tak
sedikit dari pengguna kendaraan bermotor baik yang saya kenal ataupun
tidak seringkali mengabaikan keselamatan dirinya dalam berkendara.
Salah satunya adalah menggunakan alat telekomunikasi saat berkendara.
Apalagi sekarang smartphone layar sentuh hampir menguasai dunia.
Dengan segala kemudahan yang ditawarkan smartphone dalam
bertelekomunikasi mulai dari BBM, LINE, WHATSAPP, FACEBOOK sering
melalaikan penggunanya untuk mengatur skala prioritas dalam
berkegiatan. Tak terkecuali saat berkendara.
Coba
kita bayangkan bersama-sama. Smartphone layar sentuh bukanlah alat
telekomunikasi yang dapat kita gunakan tanpa melihat. Maka, secara
otomatis saat kita menggunakan smartphone minimal kita harus
menggunakan mata dan satu tangan kita untuk mengoperasikan alat
tersebut. Saya katakan minimal karena ada juga smartphone berukuran
layar yang lebar sehingga harus menggunakan 2 tangan kita untuk
menggunakannya. Padahal tim designer dari sepeda motor yang kita
gunakan (apapun merknya) telah merancang sedemikian rupa dengan waktu
dan anggaran yang tidak sedikit agar sepeda motor tersebut dapat
beroperasi secara stabil dengan dua tangan. Jadi jika kita
menggunakan smartphone saat berkendara otomatis akan mengganggu
konsentrasi pengendara dan mengurangi kestabilan motor itu sendiri.
Lain
ceritanya dengan bertelepon. Saat bertelepon kita dapat menggunakan
headset sehingga kita dapat memegang kemudi kendaraan kita dengan
mantab. Tapi persepsi ini sangat salah dan tidak dapat kita benarkan.
Saat bertelepon kita harus memberi fokus ekstra pada lawan bicara
sehingga akan mengurangi konsentrasi kita dalam berkendara. Padahal
kehilangan sedikit saja konsentrasi saat berkendara, terutama dalam
kecepatan tinggi dapat berakibat fatal.
"ah
saya sudah terbiasa kok telponan sambil nyetir"
Hmm..
Mungkin saja anda sedang beruntung sehingga sampai sekarang
anda masih bisa membaca blog ini.. Namanya saja kecelakaan yaatidak
tiap hari terjadi.
"telpon
ini sangat penting jadi harus saya angkat"
Jika
telpon tersebut begitu penting buat anda, minggirkan kendaraan anda
atau berikan tukarlah posisi dengan teman anda yang sedang anda
bonceng. Saya yakin, telpon tersebut tidak lebih penting dari nyawa
anda jadi luangkan waktu anda untuk berhenti sejenak.
"kecelakaan
juga nggak apa apa, toh itu perbuatan saya sendiri anda tidak usah
repot repot menegur saya. "
Ok
baik, anda merasa kecelakaan karena kesalahan sendiri akan membuat
anda merasa lebih tenang? Coba fikirkan kembali bagaimana orang
menilai kecelakaan anda pasti mebanyakan akan menyalahkan anda atas
kelalaian anda.
Satu
hal lagi yang perlu anda pertimbangkan, bagaimana jika kelalaian anda
menyebabkan orang lain yang terluka? Bagaimana jika teman, saudara,
atau anak anda yang menjadi korban? Pasti anda sangat tidak ingin itu
terjadi kan? Begitu juga dengan orang lain. Mereka juga tidak
menginginkan teman, saudara, atau anak mereka menjadi korban
kecelakaan.
"yang
lain juga pakai handphone di jalan, jadi saya boleh dong..."
Jadi
menurut anda jika suatu perbuatan dilakukan secara berjamaah makan
perbuatan tersebut otomatis menjadi baik? Sekarang saya balik
bertanya pada anda, apakah jika anda seorang pejabat tinggi negara
dan anda tahu bahwa korupsi dilarang tetapi kebanyakan dari
teman-teman anda menganggap bahwa korupsi itu baik maka perbuatan
anda menjadi hal baik juga? TENTU TIDAK. Ini kesalahan kolektif yang
pada akhirnya membentuk pemikiran di masyarakat dan mengaburkan
nilai-nilai kebenaran yang berlaku di lingkungan. Pemikiran semacam
inilah yang sangat berbahaya. Maka beranikan diri anda untuk berkata
tidak. Andai ada yang bilang anda terlalu patuh, kurang gahol, atau
terlalu eskrim maka tutuplah telinga anda dengan headset. Jangan
biarkan perkataan mereka menggoyahkan keyakinan anda. Dan gunakan kata-kata yang sopan pada mereka yang masih belum
mengerti. Tidak ada gunanya juga kita menasehati dengan kata-kata kasar.
Maka
dari itu, melalui tulisan ini saya berharap teman teman sekalian
dapat berlaku lebih bijak lagi dalam berkendara di jalan raya. Semua
orang memiliki hak yang sama untuk menikmati berkendara dengan
aman&nyaman di jalan raya. Mari kita rubah kebiasaan dari diri
kita sendiri untuk kenyamana semua orang.
by:fadz
