Selasa, 16 Desember 2014

Angin 01 - “Hmm... Dasar”

Malam ini jaka terlihat aneh. Jaka si pemuda penuh energi itu seakan hampir kehabisan baterenya. Jalannya sempoyongan, matanya kosong, dan bajunya basah kuyup. Entah apa yang ada di fikirannya. Jam dinding kamar kami menunjukkan pukul 21.12 WITA dan seakan menertawakan keadaan teman seperjuanganku itu. Mungkin tak banyak yang menyadari, entah mungkin dia lelah atau mungkin lagi galau karena kehabisan nasi kucing mbok inem yang biasa mangkal di depan kosan.  Wajahnya suram sekali, bahkan lebih suram dari saat kami menghilangkan jam tangan kesayangannya beberapa bulan yang lalu.

Rasa bersalah atas kejadian itu membimbingku menekan tombol ctrl + S dan menutup laptop yang ada di pangkuanku. Aku pun beranjak dari kursi nyamanku, mengambil celana pendek tiga perempat, memakainya dan berniat menghampiri kawanku itu. Aku juga sempat memungut handuk yang tergeletak di samping meja belajar Amir. Sambil berjalan menyusuri kamar kos kami, aku mulai penasaran dan mengendus-endus bau tidak sedap yang entah dari mana seakan mengikutiku menuju ruang depan, “Prasaan aku udah mandi deh tadi pagi...”gumamku .

Saat mendekati jaka aku pun mulai bingung apa yang harus ku lakukan untuk menghiburnya. Coba saja bayangkan, orang yang dalam 24 jam selalu tersenyum dan energik (bahkan saat tidur) itu sedang murung. Murung semurung murungnya. Entah jin apa yang sedang merasuk dirinya. Melihat ekspresi wajahnya aku pun tak bisa menahan otakku untuk berkhayal,“pasti setannya lagi semangat nggoda orang, makanya sampai orang seperti Jaka saja bisa terpengaruh... aku harus lebih hati-hati...”

“Baru pulang jak? Malem banget...”, ujarku sambil duduk sofa ruang tamu kos kami dan melempar handuk yang ku pegang tadi padanya. “Seenggaknya  tunggu ujannya reda dulu kek kalo deres kaya gini.” lanjutku sambil mengambil 2 gelas air dari dispenser di sebelahku dan memberikan salah satunya pada Jaka. “Makasih men..” jawabnya sambil meminum air pemberianku. Setelah menghabiskan separuh air dari gelas tadi dia lalu menaruh gelas tersebut dan lanjut mengeringkan diri dan pakaiannya dengan handuk yang aku berikan tadi.

Meskipun agak malas aku pun mencoba membuka pembicaraan sambil merebahkan tubuhku di sofa merah itu sambil melihat ke langit-langit kos yang retak. Ku bilang padanya, “Dah denger belom ? Bu Res bilang biaya kuliah smester depan bakalan naik(jeda 10 detik)jadi lusa kita bakalan ngobrol bareng sama anak-anak, yah ga begitu banyak sih naiknya tapi nggak tahu tuh, pada ngedumel semua...(jeda 15 detik) Enaknya kita protes apa nggak ya.?”. “Wow” gumamku dalam hati.

“yaah dia lagi ngambek, gak asik nih. Mbok inem jahat banget nggak nyisain jatah nasi buat kucing garongnya... ”. Jaka yang terhenyak karena pernyataanku berhenti dari yang dia kerjakan dan menggigit bibirnya. Seakan mengerti arah pembicaraanku Jaka pun merubah ekspresi wajahnya 180derajat dan mulai menjawab “haha nggak kok tadi aku udah makan men, (tertawa) hahaha... makanya nggak mampir ke mbok inem, kamu udah mkan men? mau aku beliin nasi gandul wakwow di depan?” sambil memaksakan tawanya. "g usah aku dah kenyang.." jawbku ketus, "Men, hujannya deres banget depan kosan tadi padahal tadi pagi nggak ada awan di atas, makanya tadi pagi aku smpetin nyuci baju setumpukan tuh... Untung tadi ada Angga yang masih di kosan kalau nggak wihh udah basah semua cucianku tadi pagi," "bukan si Angga yang angkat, tapi bu Kos..." jawabku dingin. "wah dasar tu orang emang... eh ngomong-ngomong men, bau apaan ya dari tadi kok gak enak gini?”. “tauk lah,”jawabku sambil tetap mempertahankan posisiku tadi.

“baru dateng jak?” Tanya kak Dian sambil tersenyum melihat Jaka. “Hahaaa... iya kak Dian ini basah kuyup gini..”. “Cepet di keringin bajunya ntar kedinginan.”. “okok Sipp... kak Dian sibuk nggak? bisa bantu saya sebentar?” sahut jaka pada kak Dian yang baru keluar dari kamar mandi. Ku paksakan lidah dan otakku untuk berkoordinasi menciptakan kata-kata untuk memutus pembicaraan mereka, “Kak Dian mandi dingin-dingin gini? Aku mah ogah”. “Abis main basket tadi, keringetan  makanya mandi. kalo kamu emang jarang mandi, hahahaa.." jawab kak dian yang senyam senyum nggak jelas sambil berjalan menuju kamarnya.

Setelah membuka pintu kamarnya dia berteriak padaku, “Jak, liat anduk di merah depan meja?” “yaaa...”jawabku. “tolong simpenin jangan sampai si Amir tahu, tadi aku pake ngebersihin ek ok-nya si putih.”. “yaa” jawabku dingin. Entah mengapa kata-kata kak Dian menggema di fikiranku karena sepertinya ada yang mengganjal dari kata-katanya. Setelah memikirkan segala kemungkinan yang ada akhirnya kesadaranku kembali ke posisi ON. Aku menghempaskan tubuhku, duduk tegap sambil menatap Jaka yang masih sibuk mengeringkan diri. Karena kaget dengan pergantian posisiku yang tiba-tiba jaka pun menatapku penuh tanda tanya sambil bertanya, “kenapa?”.

Seakan tak menggubris pertanyaannya, aku mengendus-enduskan hidungku lalu berkata, “hmm... pantesan...”.

setelah itu aku pergi meninggalkan jaka yang terheran heran dengan tingkah lakuku barusan. Jaka pun mengikutiku mengendus-endus dengan polosnya. “Kak dian tega amat ya.?” Teriakku pada kak Dian sambil memasang headset yang menancap pada Hpku. Beberapa saat kemudian terdengar teriakan Jaka yang mulai tersadar.

“ASEEEEEMMMMMMMMMMMMM......”

Sebuah tawa terbahak-bahak menyambut teriakan Jaka dari dalam kamar kak Dian. Aku berani menjamin pasti orang jahil itu sangat puas membayangkan wajah jaka yang malang itu.  Malam itu jaka menggerutu habis-habisan karena pakaian basahnya sekarang tidak hanya basah, tapi jugaberbau ek ok si putih. “Hmm... dasar” gumamku lirih dalam hati.


Angin 01 (end)





Tadinya saya ingin bercerita tentang sebuah cerpen, tapi tiba-tiba saya terfikirkan tentang cerita lain yang lebih menarik perhatian saya. Cerita ini terfikirkan oleh saya ketika mengingat sesi diskusi kami (saya, chin, dan pindi) penulis tutupkurung.blogspot.com beberapa hari lalu di Taman Sritanjung, Banyuwangi seusai makan mie ayam di Warung Cak Agus. Ketika itu kami berdiskusi tentang banyak hal mulai dari kenangan masa SMK, masa-masa transisi kedewasaan dan gejolak kehidupan kami. Tapi apa hubungannya dengan cerita di atas ? Aku juga bingung...
Hahahaa

. fadz

0 komentar:

Posting Komentar