Mengintip
Aktivitas Sekelompok Pedagang Terompet Musiman Asal Solo
Eko Yulianto, 37 Salah satu pedagang terompet asal Solo yang menetap di Pasar Cungking
Winarno, 47 tahun adalah leader sekumpulan pedagang terompet musiman di Pasar Cungking
Kasimin, 50 yang tertua diantara sekelompok pedagang terompet musiman
Tahukah anda terompet yang dijual setiap
menjelang tahun baru rata-rata di produksi Wong Solo? Rombongan wong solo
tersebut hanya singgah beberapa waktu di Banyuwangi sebelum menjelang tahun
baru guna memproduksi terompet.
CHIN
JULLIEN, Banyuwangi
Jika anda memasuki bangunan Pasar
Mojopanggung di jalan Gajah Mada Kelurahan Mojopanggung di Kecamatan Giri,
dibagian pojok sebelah utara, anda akan menemukan bidak yang dipenuhi terompet dan
sekelompok yang bermukim di situ. Ya, mereka semua adalah warga asli desa
Ngaglik Kecamatan Bulukerto Kabupaten Wonogiri
yang hanya bermukim beberapa waktu sebelum Tahun Baru untuk menjual
terompet di Banyuwangi.
Sekelompok orang tersebut terdiri dari
12 orang dewasa dan tiga orang anak. Mereka memanfaatkan Pasar Mojopanggung
yang belum beroperasi sebagai tempat hunian dan produksi terompet. Bahkan,
berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, selain ribuan terompet yang
digantung di langit-langit, sejumlah peralatan masak dan dipan untuk istirahat
juga tersedia disana.
Dikatakan Eko Yulianto, 37, salah satu
kelompok pedagang musiman tersebut, menjelang tahun baru memang momen yang
sangat di nanti oleh pengrajin terompet warga asal Wonogiri. Katanya, hal ini sudah menjadi
tradisi warga Wonogiri setiap akhir tahun. “Pertengahan bulan Desember, para
pria pasti meninggalkan rumah untuk berdagang terompet, tidak hanya di
Banyuwangi saja, tapi kami menyebar bahkan hingga di luar Jawa,” terang Eko.
Ia juga menambahkan, masing-masing
rombongan sudah memilih wilayah masing-masing untuk berdagang. Jika sudah
merasa cocok di wilayah mereka menjual terompet, mereka akan kembali lagi di
tahun-tahun berikutnya. Bahkan diantara mereka ada yang menetap. Misalkan saja
Winarno, 47, pria yang bisa dibilang sebagai pimpinan rombongan pedagang
terompet di Mojopanggung ini menetap di Banyuwangi sejak tahun 2002.
Ia merasa nyaman tinggal di Banyuwangi.
Namun sehari-harinya, untuk bertahan hidup, ia tidak menjual terompet. “Terompet
kan hanya laku saat musim tertentu saja, kalau sehari-harinya saya jual mainan
anak-anak,” ujarnya. Menjual terompet
hanya ia lakukan sebulan menjelang akhir tahun. Meskipun sudah menetap, sama
seperti rombongan lainnya, ia selalu mengusahakan untuk pulang ke kampung
halaman usai terompetnya ludes terjual.
Meskipun mereka berkelompok namun untuk
memproduksi dan mendagangkan terompet mereka tetap secara mandiri.
Masing-masing orang memiliki kemampuan
yang berbeda dalam memproduksi terompet. Bagi yang baru
lima tahun melakukan bisnis dagang terompet, maksimal mereka bisa memproduksi
500 hingga 1000 terompet hingga
akhir tahun. Sedangkan yang
menetap lama di Banyuwangi
bisa mencapai 2 ribu hingga 3 ribu
produksi terompet.
Untuk 500 buah terompet,
pedagang bisa menghabiskan modal hingga Rp 2,5 juta. Sedangkan untuk yang
memproduksi 2 ribu hingga 3 ribu
terompet bisa menghabiskan modal hingga Rp 10 juta. Terompet dijual dengan
harga bervariasi. Tergantung tingkat kesulitan. Misalkan, tingkat yang paling
sulit adalah terompet berbentuk terompet drumband, dijual dengan harga Rp
25.000, terompet dengan bentuk ular naga di jual dengan harga 20.000 sedangkan
yang paling murah adalah terompet bentuk kerucut konvensional dengan harga Rp
5.000 per kilogram.
Dari hasil penjualan
tersebut, diakui Eko, pedagang terompet tidak pernah rugi. “Meskipun tidak
mendapatkan untung banyak, tetapi kami tidak pernah rugi,” ujarnya. Hasil jual terompet diakui bisa digunakan
untuk mengganti ongkos transport dan untuk biaya hidup ketika kembali ke
kampong halaman. “Ya lumayan, uangnya bisa diuntuk tahun baruan dengan keluarga
di kampong,” timpalnya.
Uniknya lagi, ternyata
mereka sudah memulai membuat terompet ketika masih di kampong halaman.
“Biasanya bulan 10 kami sudah mulai membuat, nanti sampai di Banyuwangi kita
tinggal finishing nya saja,” ujar Eko
yang turut membawa anaknya untuk berlibur akhir tahun. Eko dan rombongannya
mengangkut terompet tersebut bersamaan dengan dirinya menggunakan satu unit
bis. “Kami biasa nyewa bis, barang bawaan jadi satu dengan kami,” tambahnya.
Kebanyakan, pengerjaan
dilakukan dimalam hari usai pekerjaan utama mereka dirampungkan. Sekedar tahu,
pekerjaan pedagang terompet musiman ini di kampong halamannya rata-rata adalah
sebagai petani dan montir.
Sesuai target yang
ditentukan, dalam beberapa hari lagi, mereka akan kembali ke kampong halaman.
“Biasanya kami akan pulang pada tanggal 1, siang hari,” ujarnya. Ia optimis,
seperti tahun-tahun sebelumnya, terompet mereka masing-masing akan terjual habis
pada malam pergantian tahun.
Tahun depan, mereka
mendengar kabar bahwa Pasar Mojopanggung akan mulai di fungsikan. Ini membuat
mereka kecewa namun juga menyadari ini posisi mereka yang hanya menumpang saja.
Selama menetap disitu, mereka tidak membayar sewa tempat. Mereka hanya membayar
uang air dan listrik, masing masing orang dikenai biaya Rp. 30.000.
Namun mereka tetap akan
dating lagi tahun depan. Mereka mulai menyewa satu rumah yang bisa dihuni satu
rombong orang untuk tempat produksi terompet dan beraktivitas lainnya. Lokasi
rumah tersebut tidak jauh dari pasar Mojopanggung tersebut. “Kami sudah
patungan untuk menyewa rumah, satu tahun Rp 3 juta,” tutup Eko. (cin)
0 komentar:
Posting Komentar