Sabtu, 01 November 2014

Vina

Pagi itu, aku merasa di titik paling gundah dengan semua masalah yang merundungku akhir minggu ini. Aku sudah kehabisan cara untuk mengalihkan semua masalah mulai dari membaca novel, mendengarkan musik, hingga lain-lain. Aku sengaja mencegah diriku untuk berdo'a kepada Tuhan, bukan melupakan NYA, tapi aku malu, masalahku tidak pantas untuk diadukan kepadanya. Aku hanya mengucap istigfar dan maaf berkali-kali karena merasa lemah dan tidak mau meminta pertolongan NYA.

Setelah beberapa kali menimbang-nimbang, aku memutuskan untuk menantang adrenalinku. Berenang di laut di siang terik. Ya, tidak peduli dengan panas terik yang menerpa wajahku, dari dermaga dengan ketinggian aku loncat ke laut dangkal. Aku menangis terisak, aku puas bisa menumpahkan tangisan tanpa seorangpun tahu. Aku terus berfikir, bagaimana bisa dalam kegundahanku seharusnya aku bergantung, berpegangan pada Tuhan yang Maha Esa. Namun aku menghindarinya.

Sekitar 10 menit aku berputar putar dibawah dermaga."Renang mbak?" seorang bapak menegurku dari atas dermaga.Kulitnya hitam legam, nampaknya ia seorang nelayan di daerah sini. Aku menjawab iya dengan senyum paksaan. Kehadiran bapak tadi membuat aku menghentikan lamunan kesedihanku. Dengan perasaan jengkel aku naik ke dermaga. Ternyata bapak tadi tidak sendirian, ia bersama seorang anak perempuan berhijab. Bila dilihat dari tinggi dan wajahnya, nampaknya ia baru berusia kelas tiga SD.

Gadis itu nampak antusias melihat pantai. Kebetulan disiang yang cukup terik itu, Tuhan menunjukkan kuasanya melalui keindahan laut yang menampakkan berbagai jenis ikan kecil. Gadis itu berdiri di pagar dermaga sembari loncat-loncat menunjuk-nunjuk ikan manapun yang ia lihat. Ia tampak riang. Bapak yang menyapaku tadi nampak kawatir dan berulang kali mengingatkan gadis kecil tadi agar berhati-hati. "Kamu tidak ingin renang nduk? seperti mbk itu?" ujar bapak itu sembari menunjukku yang menghampiri barang-barangku. Gadis itu menggeleng. Tiba-tiba dengan raut sedih ia berkata “Kangen bapak,” Usai mengatakan itu ia berlari sepanjang dermaga menuju tepi pantai. Bapak tadi menggelengkan kepala sambil berteriak "Hati-hati".

"Ayah anak itu teman saya, baru meninggal tadi pagi," bapak tersebut berjalan perlahan mendekatiku. Aku hanya mengangguk sambil memasang wajah turut berduka cita. Melupakan seluruh kesedihanku memberikan ruang untuk bisa bersedih atas derita orang lain. Bapak tadi menceritakan semua duka gadis cilik tadi. Ayahnya seorang petani, meninggal karena sakit, benar perkiraanku ia masih duduk di kelas tiga SD. Gadis kecil yang bernama Vina tersebut sangat dekat dengan ayahnya, ia anak bungsu dari tiga bersaudara. Aku mendengarkan cerita bapak tadi sembari membereskan barang-barangku. Sesekali juga aku melihat Vina yang sedang bermain pasir pantai, walaupun dari kejauhan, aku yakin gurat diwajahnya adalah gurat keceriaan.

Kasihan gadis kecil ini, mungkin mulai hari ini, beban kehidupannya akan bertambah, ditinggal pergi orang terdekat sekaligus tulang punggung keluarga. Jujur aku tidak tersentuh oleh cerita bapak tadi. Hanya saja aku membayangkan jika kejadian itu menimpaku, dadaku sesak rasanya. Mataku mulai panas. Namun sebisa mungkin aku menahan air mata agar tidak jatuh. Kami diam beberapa saat. Vina berlarian menuju kami sambil berteriak memanggil pamannya. “Paman ! Paman ! ayo kesana, banyak ikan bagus, banyak kerang bagus !” Serunya menarik lengan pamannya. “Saya kesana dulu ya mbak, ini rewel, maklum anak kampung nggak pernah ke pantai,” ujar pria paruh baya ini. Sontak, Vina meninju lengan pamannya sambil merengek manja. Akrab sekali. Aku tersenyum mempersilahkan.

Kira-kira 10 meter mereka menjauhiku, tangisku tumpah ruah, bahkan tubuhku ikut terguncang. Entahlah, cerita bapak tadi, masalah-masalah yang menimpaku belakangan ini bercampur jadi satu dibenakku. Beberapa saat kubiarkan diriku menikmati kesedihan. Kemudian aku tersentak oleh wajah Vina, guratan wajahnya yang ceria. Hey, bukankah masalahnya lebih berat dari masalahku, baru pagi ini ia kehilangan orang yang dicintainya. Benar-benar ditinggalkan, tidak bisa berjumpa lagi.

Vina harus menanggung kepedihan di usia yang masih sangat belia. Tapi dia masih bisa tersenyum, ceria. Menyaksikan sekeliling, mensyukuri nikmat Tuhan dengan cara sederhana. Kenapa aku tidak bisa demikian ? padahal masalahku lebih ringan dibandingkan dia.

Aku bergegas membereskan barang-barangku dan segera beranjak. Dalam hati aku berjanji, tidak peduli seburuk dan sebesar apapun masalahku, Tuhan akan kujadikan tempat bertumpu, bukan musik,bukan novel atau lainnya. Aku akan selalu berbaik sangka, bahwa Tuhan selalu bisa menerimaku tidak peduli seburuk apapun keadaanku.






Chin

0 komentar:

Posting Komentar