Sabtu, 29 November 2014

[field report] mendaki gunung ijen

Selamat malam sodar,
 


Semoga hari ini para pembaca sekalian dalam seadaan sehat batin dan badan. Di posting saya kali ini saya ingin berbagi pengalaman tentang pendakian saya ke gunung yang sudah tiga kali saya daki. Gunung yang berada diantara 3 kabupaten ini memiliki daya tarik yang tinggi bagi wisatawan asing maupun domestik. Sejak keberadaannya lebih sering terekspos berbagai media massa baik media cetak ataupun elektronik berkat kerja bupatinya yang giat mempromosikan pariwisata di daerahnya. Sebelum saya bercerita panjang kali lebar kali tinggi, ayoo coba tebak di mana ...?


eaa... bukan bermaksud pamer lho ya.. cuma sebagai bukti saja hehe.. doc:irma

Yap betul, Gunung ijen. Gunung dengan ketinggian 2799m dari permukaan laut ini kini makin digandrungi karena fenomena alam berupa Tambang Belerang, dan Blue Fire-nya. Infrastruktur yang semakin baik serta sorotan dari media massa menjadi salah satu faktor meningkatnya kunjungan wisatawan ke Gunung ini. Meskipun bukan hari libur tapi kemarin wisatawan domestik dan mancanegara memenuhi lapangan paltuding yang menjadi pintu masuk ke wilayah pendakian gunung ini.

Pendakian saya ke gunung ini untuk pertama kali terjadi 8 tahun yang lalu. Karena masih polos dan tidak tahu mau diajak kemana, saya yang saat itu masih duduk di kelas dua SMP berangkat dengan antusias dengan hanya membawa baju di badan dan 1 jaket tipis. Hawa dingin, rasa lapar, kaki yang pegal, jalan berbatu, dan aspal yang berlubang memenuhi ingatan pendakian pertama saya. Tapi semua kenangan itu menjadi sebuah pengalaman yang berharga karena perjuangannya.

 
Anto, Gugum, Wahyu, Dedy, Andra doc:irma


Kemarin (22 nov 2014) kami berlima memutuskan untuk mengambil cuti kerja 1 hari dan membolos kuliah di hari sabtu untuk menyambangi Gunung tersebut. Tepatnya pukul 5 sore kami sudah mendirikan tenda di paltuding untuk mengistirahatkan badan sebelum pendakian kami jam 12 malam nanti.


aring-aring byakar gedyang campur sawiy doc:dedy
Alhamdulillah, pengorbanan kami tidak sia-sia. Setelah melewati 3 jam atau kira-kira 4km pendakian menerobos hawa dingin Gunung Ijen kami dapat menjumpai si api biru kebanggaan warga Banyuwangi. Fenomena api biru atau "Blue Fire" yang menurut beberapa sumber hanya 2 di dunia ini menunjukkan pesonanya tepat dihadapan kami. Menurut penambang belerang, malam itu kami cukup beruntung. Menurut beliau tidak sedikit pendaki yang pulang dengan kecewa karena hembusan angin yang tidak bersahabat sehingga pendaki tidak dapat turun ke dasar kawah ijen. 
blue fire ijen http://farm6.staticflickr.com/5538/10678572734_f13c10953a_c.jpg


Api biru yang menyala-nyala di pinggiran danau Kawah Ijen itu dapat kita lihat sampai matahari terbit. Api biru ini akan sangat indah apabila kita dapat melihatnya pada tengah malam karena semakin pagi nyalanya apinya makin redup. Saat memandangi keindahannya kita harus tetap waspada terhadap asap belerang yang terus bertambah seiring bertambah tingginya matahari. Setelah puas berfoto-foto kami pun mengakhiri perjalanan dan turun kembali ke paltuding. Kaki dan tubuh kami sudah meronta-ronta untuk diistirahatkan. Beginilah kami anak kota yang terbiasa hidup serba santai sangat bertolak belakang dengan keadaan di sini. Motor, internet, dan segala kemudahan yang kami miliki tanpa sadar telah mengurangi fungsi otot dan otak kami.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiILn20hhwaxxBpdSzD33Em5LKxxTQkS7kOrs5O7qZqSDnB3LbTLK4m0puxaGS1xZF-tfRfU5Lzjs-l4ujm0YKDAJC0_95cIMX6a43aeuuMWZ_LY2vckgAzy4vsXuqmKmP1da_FG0jrLtk/s1600/penambang+belerang+ijen+%25284%2529.JPG
Sepanjang perjalanan kami beberapa kali berjumpa dengan para penambang belerang yang membawa belerang dengan berat lebih dari 60kg di pundak mereka. Kami merasa malu sendiri melihat para penambang di sana. Kami berlima telah memiliki pekerjaan tetap di Denpasar tapi kami kurang mensyukurinya. Sangat berbeda sekali dengan bapak-bapak penambang di sini. Mereka masih setia melakukan pekerjaan mereka dengan penuh semangat meskipun tubuh mereka sedang digerogoti oleh zat-zat berbahaya dari asap belerang yang selalu mereka hirup setiap hari. 

Saat matahari sudah mulai meninggi kami baru menyadari pemandangan hutan gunung ijen yang gosong akibat kebakaran hutan yang terjadi baru-baru ini. Sejauh mata memandang kekayuan yang hangus dan bekas-bekas kebakaran memenuhi pemandangan hutan. Bahkan kami sempat melihat beberapa kawanan monyet yang telah berubah warna menjadi hitam karena terkena abu di batang-batang pohon yang mereka hinggapi.
bekas terbakar doc: wahyu

bekas terbakar doc:wahyu

bekas terbakar  doc:wahyu

monyet gaul doc:wahyu
Saya hanya dapat turut prihatin melihat apa yang terjadi di hutan gunung ijen. Saya juga berharap semoga kejadian ini adalah kejadian alam yang alami terjadi karena musim kemarau panjang yang terjadi beberapa bulan lalu. Bukan karena ulah wisatawan yang kurang berhati-hati dalam menggunakan api atau membuang puntung rokok.

Nafas kami semakin sesak tatkala melihat banyak sampah berserakan di sekitar kawasan pendakian. Sampah botol air minum mineral dan snack terlihat berserakan di sana sini.
doc:wahyu
Kalau ini dibiarkan bukan tidak mungkin para wisatawan pun akan berfikir berulang kali untuk datang kembali ke gunung ijen. Jangan sampai kita ditegur lewat media massa internasional lagi seperti kejadian di Pantai Kuta Bali yang menimbulkan efek negatif bagi denyut nadi wisata nasional karena kurang memperhatikan masalah yang 1 ini.

Sekian sharing pengalaman dari saya. Buat pembaca yang belum sempat ke ijen saya sarankan agar SEGERA ke sana sebelum ijen semakin ramai dan penuh sesak dengan pengunjung. Saat di Gunung Ijen tetap jaga kebersihan, beri jalan pada penambang, dan tetap jaga Ibadah jangan sampai perkara jalan-jalan ini menghalangi keistiqomahan ibadah kita terutama shalat.

arep rek.? Doc:dedy

by : fadz



2 komentar: