Semoga hari ini para pembaca sekalian dalam seadaan sehat batin dan badan. Di posting saya kali ini saya ingin berbagi pengalaman tentang pendakian saya ke gunung yang sudah tiga kali saya daki. Gunung yang berada diantara 3 kabupaten ini memiliki daya tarik yang tinggi bagi wisatawan asing maupun domestik. Sejak keberadaannya lebih sering terekspos berbagai media massa baik media cetak ataupun elektronik berkat kerja bupatinya yang giat mempromosikan pariwisata di daerahnya. Sebelum saya bercerita panjang kali lebar kali tinggi, ayoo coba tebak di mana ...?
| eaa... bukan bermaksud pamer lho ya.. cuma sebagai bukti saja hehe.. doc:irma |
Yap betul, Gunung ijen. Gunung dengan ketinggian 2799m dari permukaan laut ini kini makin digandrungi karena fenomena alam berupa Tambang Belerang, dan Blue Fire-nya. Infrastruktur yang semakin baik serta sorotan dari media massa menjadi salah satu faktor meningkatnya kunjungan wisatawan ke Gunung ini. Meskipun bukan hari libur tapi kemarin wisatawan domestik dan mancanegara memenuhi lapangan paltuding yang menjadi pintu masuk ke wilayah pendakian gunung ini.
Pendakian saya ke gunung ini untuk pertama kali terjadi 8 tahun yang lalu. Karena masih polos dan tidak tahu mau diajak kemana, saya yang saat itu masih duduk di kelas dua SMP berangkat dengan antusias dengan hanya membawa baju di badan dan 1 jaket tipis. Hawa dingin, rasa lapar, kaki yang pegal, jalan berbatu, dan aspal yang berlubang memenuhi ingatan pendakian pertama saya. Tapi semua kenangan itu menjadi sebuah pengalaman yang berharga karena perjuangannya.
| Anto, Gugum, Wahyu, Dedy, Andra doc:irma |
Kemarin (22 nov 2014) kami berlima memutuskan untuk mengambil cuti kerja 1 hari dan membolos kuliah di hari sabtu untuk menyambangi Gunung tersebut. Tepatnya pukul 5 sore kami sudah mendirikan tenda di paltuding untuk mengistirahatkan badan sebelum pendakian kami jam 12 malam nanti.
| aring-aring byakar gedyang campur sawiy doc:dedy |
| blue fire ijen http://farm6.staticflickr.com/5538/10678572734_f13c10953a_c.jpg |
Api biru yang menyala-nyala di pinggiran danau Kawah Ijen itu dapat kita lihat sampai matahari terbit. Api biru ini akan sangat indah apabila kita dapat melihatnya pada tengah malam karena semakin pagi nyalanya apinya makin redup. Saat memandangi keindahannya kita harus tetap waspada terhadap asap belerang yang terus bertambah seiring bertambah tingginya matahari. Setelah puas berfoto-foto kami pun mengakhiri perjalanan dan turun kembali ke paltuding. Kaki dan tubuh kami sudah meronta-ronta untuk diistirahatkan. Beginilah kami anak kota yang terbiasa hidup serba santai sangat bertolak belakang dengan keadaan di sini. Motor, internet, dan segala kemudahan yang kami miliki tanpa sadar telah mengurangi fungsi otot dan otak kami.
Sepanjang perjalanan kami beberapa kali berjumpa dengan para penambang belerang yang membawa belerang dengan berat lebih dari 60kg di pundak mereka. Kami merasa malu sendiri melihat para penambang di sana. Kami berlima telah memiliki pekerjaan tetap di Denpasar tapi kami kurang mensyukurinya. Sangat berbeda sekali dengan bapak-bapak penambang di sini. Mereka masih setia melakukan pekerjaan mereka dengan penuh semangat meskipun tubuh mereka sedang digerogoti oleh zat-zat berbahaya dari asap belerang yang selalu mereka hirup setiap hari.
Saat matahari sudah mulai meninggi kami baru menyadari pemandangan hutan gunung ijen yang gosong akibat kebakaran hutan yang terjadi baru-baru ini. Sejauh mata memandang kekayuan yang hangus dan bekas-bekas kebakaran memenuhi pemandangan hutan. Bahkan kami sempat melihat beberapa kawanan monyet yang telah berubah warna menjadi hitam karena terkena abu di batang-batang pohon yang mereka hinggapi.
| bekas terbakar doc: wahyu |
| bekas terbakar doc:wahyu |
| bekas terbakar doc:wahyu |
| monyet gaul doc:wahyu |
Nafas kami semakin sesak tatkala melihat banyak sampah berserakan di sekitar kawasan pendakian. Sampah botol air minum mineral dan snack terlihat berserakan di sana sini.
![]() |
| doc:wahyu |
Sekian sharing pengalaman dari saya. Buat pembaca yang belum sempat ke ijen saya sarankan agar SEGERA ke sana sebelum ijen semakin ramai dan penuh sesak dengan pengunjung. Saat di Gunung Ijen tetap jaga kebersihan, beri jalan pada penambang, dan tetap jaga Ibadah jangan sampai perkara jalan-jalan ini menghalangi keistiqomahan ibadah kita terutama shalat.
| arep rek.? Doc:dedy |
by : fadz

he tulisanmu bagus.. siap jadi jurnalis :)
BalasHapusnice mas broo..... (y)
BalasHapus